Pemerintah Seuneubok Rawa Bagikan BLT Tahap Akhir


Pemerintah Gampong Seuneubok Rawa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen salurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap akhir. Bantuan untuk warga imbas Covid 19 yang berasal dari Dana Desa (DD) senilai 77.400.000,- sudah terlaksana dengan baik.

Keuchik Gampong Seuneubok Rawa, Ruslan S.Sos kepada jurnalis warga (15/7), menyampaikan bahwa tiga tahap penyaluran BLT kepada 43 KK imbas Covid19 telah diselesaikan mulai Mei sampai Juli.

"Saya sangat lega karena akhirnya terselesai sudah tanggungjawab kami sebagai aparatur dalam tugas ini. Semoga BLT tersebut bermanfaat dan kita semua mendapatkan kesehatan selama wabah corona ini," imbuhnya

Salah satu warga penerima BLT DD, Nurjannah (40) menyampaikan rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah memfasilitasi bantuan tersebut.

"Terimakasih banyak untuk semua pihak yang sudah memfasilitasi kami masyarakat dalam proses pembagian bantuan tunai ini. Saya akan manfaatkan dengan baik setiap bantuan yang diberikan selama pandemi corona ini," ungkap Nurjannah kepada JW  usai pembagian BLT tahap akhir di Meunasah setempat. Jurnalis Warga/Yulyani 

Related Posts:

ASAL MULA KEURAJEUN PEUSANGAN RAYA

Oleh: Rahmadsyah Harahap

Akhir pemerintahan Sri Ratu Safiatuddin pada tahun 1672, ia menerbitkan sarakata (cap sikuereung) pendirian keujruen Pusangan Raya dan menunjuk panglima perang Teuku Diadjat Pasee sebagai Keujruen Syik Peusangan Raya. Tak lama kemudian Sri Ratu wafat pada tahun 1675 karena diracun oleh lawan politiknya. Pada sarakata disebutkan bahwa keturunan raja-raja Peusangan terdiri dari 3 jalur nasab, yaitu :

  1. Dari Hadramaut Yaman melalui Tu Praja Chiek Yamani cicit Saydina Hasan ra.
  2. Marga Al Habsyi yang berasal dari Abbasiyah Irak.
  3. Dari Persia melalui pangeran Shahriansyah Salman dari kerajaan jeumpa yang bercampur dengan klan dinasty Abbasiyah, Irak.

Ketiga jalur tersebut bermuara pada Bani Hasyim dan dinasti Mamluk yang mendirikan kekhalifahan Islam Maroko di Afrika Utara. Dalam sarakata disebutkan juga tahun 1182 H (1672/3 M), Panglima Teuku Diadjat Pasee atau PONYAK DJAT mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yang diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 - 1675) dengan gelar "Keujruen Chik Peusangan Seutya Radja". Ponyak Djat atau Panglima Perang Teuku Diadjad Pasee adalah seorang panglima perang dari Pasee yang hijrah peusangan dan di angkat menjadi keujreun syiek di Peusangan Raya oleh sultan aceh. Menurut yang tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yang berasal dari dinasti abbasiyah irak.
Batas wilayah kekuasaan Keujruen Peusangan raya disebutkan terbentang dari wilayah timur Kuala Meuraksa Puenteut, Lhokseumawe sampai batas wilayah barat Glee Meunaleung, Cot Geuleungku, Krueng Pandrah Bireuen dan terbagi dalam 6 pemerintahan kemukiman yaitu :

  1. Kemukiman Jeumpa termasuk dalam wilayah ini adalah wilayah Bireuen, July, Peudada (jeunib).
  2. Kemukiman Glumpang Dua yang termasuk dalam wilayah ini adalah matang glumpang dua, krueng panjo, kuta blang dan geuruegok.
  3. Dataran tinggi kemukiman Sawang.
  4. Dataran rendah kemukiman Blang Panyang yang meliputi nisam, Keude Bungkah, Krueng Geukueh, Batuphat dan Keude Paloh.
  1. Kemukiman Cunda, wilayah ini meliputi pekan Cunda, Buloeh dan Kandang.
  2. Kemukiman Bayu Meuraksa wilayah ini meliputi, Meuraksa, Keude Bayu dan Keude Puenteut

Adapun garis kepemimpinan Keujruen Peusangan Raya yaitu dimulai dengan keturunan pertama yang terdiri dari Teuku Monga Kasim, merupakan putra pertama teuku diadjat pasee. Dicatat bahwa ia tidak memiliki keturunan dan meninggal karena penyakit yang dideritanya. Teuku Chik Meunasah, putra kedua dari Ponyak Djat, menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Keujruen Syik Peusangan. Sedikit sekali literature mengenai yang bersangkutan sehingga tidak diketahui kapan mulai menggantikan ayahnya. Teuku Chik Meunasah wafat dan digantikan oleh saudara dari lain ibu Teuku Chik Lampoeh U. Teuku Chik Lampoeh U, putra Teuku Diadjat Pasee dari istri keduanya, saudara teuku Chik Meunasah dari lain ibu. Teuku Chik Lampoeh U ditunjuk oleh sultan aceh utk menggantikan kedudukan Teuku Chik Meunasah yang wafat dan juga sekaligus pemangku raja sementara berhubung putra mahkota Teuku Chik Nyak Krueng masih di bawah umur. Setelah Teuku Chik Nyak Krueng cukup umur dan naik tahta menggantikan abangnya Teuku Chik Lampoeh U, beliau hanya diperkenankan mengurusi wilayah yang lebih kecil yaitu mukim Blang Panyang (Nisam), beliau juga merupakan ayah dari Teuku Bentara Keumangan Peutuha Blang Panyang, Nisam. Teuku Bentara Kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), merupakan putra bungsu Teuku Diadjat Pasee yang menggantikan kedudukan abangnya Teuku Chik Lampoeh U sebagai Keujruen Peusangan Raya. Teuku Bentara Kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng) naik tahta menjadi Keujruen Peusangan saat usia masih muda. Beliau memang telah dipersiapkan sebagai putra mahkota menggantikan posisi abangnya sebagai pemangku kerajaan (Wali Negeri). Keujruen peusangan mencapai pucak kejayaan di masa Teuku Bentara Kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng) memegang tampuk kekuasaan (1844 - 1968). Dimana pertanian dan nelayan sebagai mata pencaharian utama penduduknya. Keujruen Peusangan juga menjadi daerah lumbung beras, selain pinang , pala, lada, kemiri (boeh kiroe) dan kopra (u cuelek) sebagai komoditas utama perdagangan negeri ini. Tercatat ada beberapa pelabuhan perdagangan hasil bumi yang terdapat di wilayah Keujruen Peusangan Raya yaitu, Kuala Peudada, Kuala Jeumpa (Kuala Raja), Kuala Ceureupei, Kuala Manee, Kuala Bangka (Kuala Geukueh) dan Kuala Meuraksa. Pada tahun 1868, Teuku Chik Nyak Krueng wafat dan digantikan oleh putra sulungnya T. Chik Muhammad Hasan.

Selanjutnya tercatat bahwa Keujruen Peusangan Raya di pimpin oleh keturunan ke-2 dimulai dari
Teuku Bentara Keumangan, merupakan putra dari Teuku Chik Lampoeh U, bekas penguasa Keujruen Peusangan Raya. Teuku Chik Lampoeh U dilengserkan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sebagai Ulee Balang (Peutuha) kemukiman Blang Panyang (Nisam). Selanjutnya kedudukan sebagai Ulee Balang Blang Panyang digantikan oleh putranya Teuku Bentara Keumangan. Mesjid tua Kuala Manee, Krueng Manee, Mesjid tua Dakuta, Meunasah Drang dibangun pada masa Teuku Bentara Keumangan menjabat sebagai Ulee Balang (Peutuha) Blang Panyang tahun 1823. Jabatannya sebagai Ulee Balang Blang Panyang kemudian digantikan oleh anaknya Teuku Rhi Mahmud Nisam. Teuku Chik Muhammad Hasan, putra pertama dari Teuku Chik Nyak Krueng (Teuku Bentara Kuanta), menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Ulee Balang Keujruen Peusangan Raya setelah ayahnya wafat pada tahun 1868. Karena kebijakan pemerintahan yang buruk sehingga selalu mendapat pertentangan dari adiknya. Kemudian kedudukan beliau sebagai Ulee Balang Keujruen Peusangan Raya dilengserkan oleh adiknya Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe (Teuku Moeda Tji'), beliau wafat dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya pada tahun 1872.
Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe (T. Moeda Tji'), merupakan putra kedua Teuku Bentara kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), beliau menggantikan posisi abangnya Teuku Chik Muhammad Hasan sebagai Ulee Balang Keujruen Peusangan. Masa pemerintahan beliau sangat singkat mulai 1872 - 1875. Pada tahun 1875 mendadak wafat tanpa keterangan yang jelas terkait penyakitnya. Sisa jabatannya kemudian diduduki oleh keponakannya bernama Teuku Chik Syamaun.

Masa Perang Peusangan Raya (1882-1899). Konflik ini mulai terjadi saat kepemimpinan Peusangan Raya berada ditangan keturunan ke-3. Saat itu, Teuku Rhi Mahmud Nisam, putra dari Teuku Bentara Keumangan, Ulee Balang (Peutuha) kemukiman Blang Panyang kemudian berganti nama menjadi kenegerian Nisam yang berpusat di Keude Amplah. Ketika perang Peusangan Raya terjadi, Teuku Rhi Mahmud berperan sebagai tuan rumah dalam deklarasi damai pada tahum 1889 yang dimotori oleh asisten residen belanda di pantai timur, Kapten G.A Scherer. Salah satu butir kesepakatan yang dihasilkan adalah mengenai batas wilayah antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur (glumpang dua) adalah Glee Mirah Phoen, Cot Ijue. Walaupun demikian deklarasi damai ini gagal mencegah terjadinya perang Peusangan Raya.

Selanjutnya, Teuku Chik Syamaun putra dari Teuku Chik Muhammad Hasan yang lahir di kemukiman Glumpang Dua, Peusangan menggantikan pamannya Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe (Teuku moeda tji') sebagai Ulee Balang Peusangan yang wafat pada tahun 1875. Menjabat sebagai Ulee Balang Peusangan dari 1875-1899, Teuku Chik Syamaun adalah seorang yang ambisius. Salah satu obsesinya adalah ingin mempersatukan seluruh wilayah Keujruen Peusangan Raya seperti masa dahulu sesuai dengan yang tertera dalam sarakata Sultan Aceh sejak 1182 H. Atas dasar inilah, maka pada tahun 1882 terjadilah perang antar Ulee Balang di wilayah Peusangan Raya. Puncaknya pada 1883 pasukan Ampon Chik Syamaun menyerang Kuta Panjoe, pusat pemerintahan Glumpang Dua. Kuta Panjoe jatuh ke tangan pasukan Ampoen Chik Syamaun, penguasa  Glumpang Dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah Sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di Teluk Samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya pada masa perperangan  Peusangan Raya. Teuku Chik Syamaun diminta mundur dari Kuta Panjoe oleh Scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh Ampoen Chik Syamaun dengan beberapa persyaratan, untuk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pada tahun 1884 pasukan Ampoen Chik Syamaun dibawah pimpinan Teuku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa kembali menyerang Kuta Panjoe, Blang Panyang (Nisam), Cunda dan Bayu dari darat maupun laut yang melibatkan pasukan secara besar. Glumpang Dua, Blang Panyang (Nisam) dan Cunda berhasil diduduki oleh Ampoen Syik Syamaun. Protes kembali dilayangkan kepada belanda atas perbuatan Ampoen Syik Syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi residen belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 untuk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar Ulee Balang di wilayah Keujruen Peusangan, bertempat di Keude Amplah Nisam yang disebut deklarasi Keude Amplah. Pihak-pihak ulee balang yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu, T. Muda Peusangan Maharaja Jeumpa dan T. Keujruen Nusyah Pulo Iboih dari Peusangan Barat. T. Bintara muda husin, T. Bentara Muda Peureudan dari Glumpang Dua, Rhi mahmud mewakili Blang Panyang, Nisam sebagai tuan rumah dan sawang diwakili oleh panglima prang muda beserta Teuku Puteh. Sedangkan dari Cunda dan Meuraksa Bayu diwakili oleh Teuku mahmud beserta T. Bentara muda chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Glee Mirah Poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak. Pada tahun 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di Lhokseumawe yang dimotori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan Timur menunjuk Maharaja Abdul Hamid sebagai perwakilannya sedangkan Peusangan Barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sebagai perwakilan arbitrasenya. T. Muda Osoeih (T. Nyak Muda Yusuf) oelim Pidie sebagai hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi Lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Krueng Tingkeum Kuta Blang.

Teuku Moeda Peusangan Maharaja Jeumpa, salah satu tokoh paling dominan dalam sejarah peusangan. Beliau merupakan putra kedua Teuku Chik Muhammad Hasan bekas penguasa Keujruen Peusangan (1868-1872), juga merupakan adik dari T.Chik Syamaun juga mantan penguasa negeri peusangan yang memerintah sejak 1875-1899. Beliau lahir di kemukiman Glumpang Dua, tak pasti tahun berapa tapi diperkirakan lahir jelang memasuki pertengahan abad ke 19 Masehi. Dalam perang Peusangan Raya (1882 - 1899), Teuku Muda Peusangan memegang peranan penting dalam mengatur serangan, beliau merupakan orang kepercayaan Teuku Chik Syamaun sebagai seorang ahli strategi tempur, tak salah beliau mendapatkan gelar panglima perang, dalam menghadapi musuh-musuhnya. Salah satu aksi tempan sangat fenomenal adalah pada tahun 1884 memimpin serangan kilat yang dilakukan dari darat dan laut terhadap Negeri Glumpang Dua, Cunda dan Nisam. Hanya dalam hitungan jam, ibukota Glumpang Dua, Kuta Panjo jatuh ke tangan Peusangan, begitu juga negeri Nisam dan Cunda. Para pemimpinnya melarikan diri untuk menyelamatkan diri, seperti Teuku Bintara Husin dan Rhi Mahmud melarikan diri ke Sawang, sedangkan Teuku Chik Johan Cunda melarikan diri ke Teluk Samawi. Teuku Chik Syamaun menunjuk saudaranya Teuku Muda Peusangan sebagai penguasa sementara Glumpang Dua dan Teuku Raja Haji Muda sebagai penguasa Nisam serta Teuku Chik Muda sebagai penguasa Cunda. Hal ini mendapat protes keras dari kubu Peusangan Timur dan memaksa Belanda untuk mendamaikannya. Pada tahun 1889 dibuatlah deklarasi damai yang diprakarsai oleh residen Belanda G.A Scherer. Deklarasi damai ini dinamakan Deklarasi Keude Amplah karena dilakukan bertempat di Keude Amplah Nisam. Dalam deklarasi ini kubu Peusangan Barat diwakili oleh Teuku Muda Peusangan dan Ulee Balang Cot Iboih Teuku Keujruen Nusyah. Sedangkan perwakilan Peusangan Timur diwakili oleh Teuku Bentara Husin dan Bentara Muda Seutia Pereudan mewakili Gloempang Dua. Serta Sawang diwakili oleh panglima prang muda dan Teuku Puteh, Cunda diwakili oleh Teuku Mahmud, Nisam diwakili oleh Rhi Mahmud sendiri dan Bayu oleh Bentara Muda Cik. Deklarasi damai ini gagal diberlakukan karena salah satu pihak masih melanggar kesepakatan sehingga perang Peusangan Raya masih terus berlanjut. Pada tahun 1899 Teuku Chik Syamaun wafat di Peusangan Selatan. Akibat penyakit yang dideritanya, perang Peusangan Raya pun berakhir. Kemudian T. Muda Peusangan naik tahta menggantikan sebagai Ulee Balang Peusangan dengan gelar "Teuku Maharaja Jeumpa" sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama pihak Belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Johan Alamsyah masih dibawah Umur. Pada tahun 1903 perlawanan Sultan Muhammad Daudsyah berakhir dengan menyerahnya beliau di Lhokseumawe. Tahun 1905 Belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yang disebut besturder yang dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan-kerajaan otonom yang masih dibawah kontrol Pemerintah Belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk pada bekas wilayah kesultanan Aceh. Tahun 1906 Belanda mengangkat Teuku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa sebagai wedana pertama Peusangan. Pada tahun 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School Kutaraja, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sebagai wedana Peusangan. Selanjutnya Teuku Muda Peusangan hanya memegang kendali sebagai Ulee Balang Cut Jeumpa Bireuen. Pada 1915 beliau wafat dan dimakamkan di Cot Glee, Keude Matang berdekatan dengan kampus Almuslim, Peusangan Bireuen.

Teuku Bentara Husin (Teuku Moeda Nyak Krueng), merupakan putra sulung Ulee Balang Geuleumpang Dua T. Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Beliau menjabat sebagai Peutuha kemukiman Glumpang Dua dengan Kuta Panjoe sebagai pusat pemerintahannya menggantikan ayahnya Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe yang telah naik jabatan menjadi Keujruen Peusangan dengan berhasil melengserkan T. Chik Muhammad Hasan pada tahun 1872. Kemudian pada tahun 1875 T. Chik Syamaun naik tahta menggantikan pamannya yang wafat secara tiba-tiba. Pada tahun 1882 meletus perang Peusangan Raya dan Kuta Panjoe diduduki oleh Ulee Balang Peusangan T. Chik Syamaun, menyebabkan keluarga Teuku Bentara Husin harus mengungsi sementara ke wilayah dataran tinggi Sawang. Wilayah mukim Glumpang Dua merupakan cikal bakal berdirinya zelbesturder Glumpang Dua yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1900. Bersama zelbesturder Samalanga dan Peusangan masuk dalam wilayah onderafdeling Biroen yang di pimpin seorang kontrolir Belanda di Bireuen.

Pocut Haji Intan (Istri Teuku Laksamana Sawang Banggalang), putri dari Ulee Balang Glumpang Dua Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe yang dinikahi oleh Teuku Laksamana Sawang seorang utusan Sultan Aceh yang berasal dari Blang Galang, Reubee , Pidie. Nama beliau dinisbathkan kepada Banggalang, beliau juga keturunan langsung dari Meuntroe Banggalang seorang penasehat (wazir) Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah (1856-1870). Beliau mendapat sarakata dari Sultan Aceh pada tahun 1869 akhir masa pemerintahan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah. Teuku Laksamana Sawang juga merupakan kerabat dekat Teuku Beutong Banggalang yang juga mendapatkan sarakata dari sultan aceh utk mendirikan Negeri Beutoeng, Aceh Barat. Wafat pada 1882 dan dimakamkan di gampoeng gunci sawang, aceh utara. Pada sarakata disebutkan juga, pada 1182 H (1672/3 M), Panglima Teuku Diadjat Pasee atau Ponyak Djat mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yang pada masa itu diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 - 1675) dengan gelar "Keujruen Chik Peusangan Seutya Radja". Ponyak Djat atau Panglima Perang Teuku Diadjad Pasee adalah seorang panglima perang dari Negeri Pasee yang hijrah ke Negeri Peusangan dan diangkat menjadi Keujreun Syiek di Negeri Peusangan Raya oleh sultan aceh. Menurut yang tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yang berasal melalui dinasti abbasiyah irak yang hijrah ke Negeri Pasee pada abad ke 13.  

Teuku Bentara Blang (Teuku Keujruen Gok), merupakan putra bungsu dari Ulee Balang Glumpang Dua Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Beliau merupakan kepala pemerintahan kemukiman sawang sebelum resmi mendapat sarakata dari sultan aceh. Teuku Bentara Blang menikah dengan seorang wanita di Buloeh Beureugang di wilayah kemukiman Cunda. Beliau wafat pada 1882 setelah terjadi perebutan kekuasaan tahta Sawang dengan keponakannya sendiri Teuku Panglima Nyak Ben (Pang Benseh).

Masa pemerintahan Keujruen Peusangan Raya kemudian dikuasai oleh keturunan ke-4, yang pertama adalah Teuku Raja Ma' Ali (Teuku Raja Muhammad Ali), putra tertua Teuku Rhi Mahmud Nisam. Lahir di Keude Amplah Nisam pada 1884 saat berkecamuknya perang Peusangan Raya. Beliau menggantikan ayahnya sebagai Ulee Balang Nisam. Kemudian pada tahun 1900 diangkat sebagai zelfbesturder pertama Nisam, pernah menjabat sebagai kepala lansekap sementara wilayah Puentuet tahun 1911. Pada 1912 posisi beliau sebagai zelbesturder nisam digantikan oleh adiknya Teuku Bujang Salim. Teuku Bujang Salim lahir di Keude Amplah, Nisam pada tahun 1891. Pada saat itu bandar Kuala Bangka (kuala geukueh) merupakan salah satu pelabuhan yang ramai di wilayah Keujruen Peusangan. Seluruh hasil bumi dari Negeri Nisam dipasarkan melalui pelabuhan ini. Bandar Kuala Bangka (krueng geukueh) ini juga menjadi pusat pemerintahan zelfbesturder Nisam. Sedangkan nama Dewantara adalah nama yang muncul belakangan pada tahun 1950 setelah ditetapkan pemerintahan kecamatan, yang menurut kabar dari masyarakat setempat ada hubungannya dengan Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pejuang asal Yogyakarta bidang pendidikan yang notabenanya sama dengan Teuku Bujang Salim, Krueng Geukueh.  Pada Tahun 1901 saat Teuku Bujang Salim berumur 10 Tahun, beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di "Sekolah Raja" (Kweekschool) Bukittinggi, Teuku Bujang bersekolah di HIS Hollandsch Inlandsch School (HIS) sekolah dasarnya Belanda dengan lama study sekitar tujuh tahun.  Setelah itu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sederajat dengan SLTP selama 3 tahun dan sekolah kweekschool atau sekolah guru. Setelah menempuh pendidikan selama 10 tahun di Padang, Teuku Bujang dikembalikan kepada orang tuanya Teuku Rhi Mahmud di Keude Amplah Nisam dan pada tahun 1911 diangkat oleh Belanda menjadi Zelfbestuurder Negeri Nisam menggantikan abangnya Teuku Raja Ma' Ali. Dan dalam masa itu pula beliau menikah dengan Cut Bayu anak seorang Teungku Imum Tambon Tunong yang tidak jelas siapa namanya, dari Cut Bayu Teuku Bujang mempunyai satu anak yang bernama Babuyu atau kemudian dikenal dengan sebutan Hj. Cut Babuyujang.Teuku Bujang memberikan nama anaknya dari kumpulan huruf namanya dan nama isterinya yang dikombinasikan menjadi kata, seperti nama Hj Cut Babuyu dan Cut Babujanja dan nama-nama lain yang akan ditemukan dalam tulisan ini. Pada 1921 Teuku Bujang Salim dipecat sebagai zelfbesturder Nisam karena terlibat dalam organisasi terlarang Syarekat Islam (SI) yg didirikan oleh HOS Tjokroaminoto pada 1912 di Yogyakarta. Namun jiwanya yang tidak mau dijajah tetap membara dan membuat perlawanan terhadap Belanda, dengan membentuk Persatuan Muslim Bersatu pada tahun 1921 yang akhirnya membuat Belanda berang dan mengancam akan memberhentikan beliau dari jabatannya sebagai wedana Nisam dan membuang beliau ke Tanah Merah, Bovendigul, Papua. Ancaman ini tidak main-main, pertama kali beliau ditangkap dan dipenjarakan di Keudah Banda Aceh dan dibina, namun tidak berhenti disitu, beliau dibawa ke penjara Belanda lainnya di Meulaboh, namun dalam pembuangan demi pembuangan, Teuku Bujang terus menyuarakan kemerdekaan dari jajahan Belanda dan akhirnya kemarahan Belanda memuncak dengan mengancam akan membawa beliau ke Meurauke, Papua. Dan karena sikap kontranya kepada Belanda yang demikian besar, ia melakukan perlawanan secara politik baik dengan cara membentuk Organisasi Perlawanan Rakyat maupun memperkuat masyarakat dengan ilmu agama dan pendidikan umum lainnya. Hal ini membuat Belanda semakin geram dan akhirnya pada Tahun 1922, Teuku Bujang Salim diasingkan ke Meurauke Papua. Dengan meninggalkan anak dan isterinya di Aceh (Cut Babuyujang dan Cut Bayu), pengasingan yang dilakukan Belanda dengan melepaskan beberapa orang Indonesia lainnya, dilokasi pengasingan dengan kondisi alam hutan lebat (tidak ada penjara khusus namun tahanan tetap dalam pengawasan Belanda), mereka hidup dengan bertani dan bercocok tanam di hutan Papua. Di Merauke, Teuku Bujang tetap melakukan aktifitas bidang pendidikan idiologi dan keagamaan yang sangat ditakuti oleh Belanda, dan disana pula beliau menikah kembali untuk kedua kalinya dengan Djawijah binti Karmin, anak dari Pak Karmin seorang pejuang asal Banten yang juga diasingkan Belanda, dan pada Tahun 1934 Teuku Bujang dikarunikan seorang anak laki -laki yang bernama T. Bunjanjayah. Setelah dikaruniakan anak pertamanya dari Cut Djawijah, pada tahun 1935 Teuku Bujang kembali diasingkan Belanda ke Moeven Digul, sebab beliau mengajarkan idiologi kemerdekaan dan ilmu agama di Meurauke. Boeven Digul berbeda dengan Meurauke, kawasan ini terletak di belantara yang diapit oleh sungai Digul yang dikenal penuh dengan binatang buas seperti buaya dan sebagainya, dan di Digul, tawanan pejuang kemerdekaan ditempatkan dalam penjara yang lumayan luas dan kali ini anak dan isterinya diikutsertakan. Di Boeven Digul, Teuku Bujang mempunyai Putra/Putri T. Djangdjakedi, seorang guru juga perintis pusat pendidikan yayasan Bujang Salim (Yabus) di Paloh Lada, Dewantara.  Setelah T. Djangdjakedi, lahir Putrinya yang bernama Cut Djangjayahdi yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik dan dosen FKIP bahasa inggris UNSYIAH. Dan narasumber tulisan ini, Cut Babunjanja dan Gulyankedi yang sampai saat ini menetap di Meurauke, Papua. Kemudian pada Tahun 1942, Jepang datang dan menggantikan posisi Belanda untuk menjajah dan dengan menyebarkan selebaran ke kawasan Boeven Digul yang berisi kabar pemulangan tawanan Belanda. Namun para pejuang yang diantaranya Teuku Bujang, belum dipulangkan ke daerahnya, namun diungsikan melalui jalan sungai dengan menggunakan perahu yang tembus kel aut dan di laut lepas sudah ada kapal induk yang menunggu mereka, kemudian para tawanan ini diterbangkan ke Australia dengan pesawat yang ada di kapal induk tersebut.

Penjajahan Belanda terhadap Indonesia benar-benar berakhir saat Pemerintah Jepang melakukan penyerangan. Tanggal 27 Februari 1942 tentara Jepang berhasil mengalahkan armada gabungan dari Negara Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia. Kemudian, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, tentara Jepang mulai menginjakkan kaki ke Pulau Jawa. Di sana Letnan Jenderal Hitoshi Imamura mengancam akan menyerang Belanda apabila tidak segera menyerah. Pada akhirnya setelah mengalami kekalahan terus menerus dari pihak Jepang, Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer sebagai Jenderal Hindia Belanda menyerah dan ditangkap. Hal ini menjadi tanda dimulainya masa penjajahan Jepang di Indonesia sekaligus berakhirnya sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Tahun 1943, Para tawanan Belanda ini di tempatkan di Mackay, Australia dan disana pula Teuku Bujang dianugerahi satu putri lagi yang diberi nama Cut Macaustrali  yang makamnya berada di Banda Aceh. Masa Indonesia dalam jajahan Jepang, para tawanan politik ini berada di Australia sampai tahun 1945 saat Sukarno memprolakmirkan kemerdekaan Indonesia.


Dengan demikian para tawanan perang ini yang disebut orang buangan, dikembalikan kepada pemerintah Indonesia pada akhir 1945, akhirnya mereka diberangkatkan dari Australia menuju Jakarta pada awal 1946. Mereka dimasukkan ke kamp Chause Complex dan satu bulan kemudian, anggota rombongan lainnya diberangkatkan ke Cirebon dan diserahkan pada pemerintah Indonesia. Sedangkan Bujang Salim, karena anaknya sakit keras, tertunda keberangkatan sampai empat bulan lamanya. Bujang Salim kemudian berhubungan sendiri dengan pemerintah Indonesia di Pegangsaan Timur dan dibolehkan berangkat ke Purwokerto. Pada 15 Februari 1947 oleh Kementrian Dalam Negeri di Purwokerto, dipekerjakan di sana sementara menunggu kapal yang berangkat dari Cilacap menuju Sumatera. Pada Maret 1948, ia ditangkap oleh satu pasukan patroli Belanda dan ditahan untuk diperiksa. Dua hari kemudian ia dilepaskan dan dengan dasar janji Belanda di Australia dulu, ia dibawa ke Medan. Pada Februari 1950 dengan bantuan Gubernur Aceh ketika itu, Teungku Daud Beureueh, Teuku Bujang diberangkatkan ke Kutaradja (Banda Aceh). Lalu, 31 Juli 1950 ia pulang ke Krueng Geukueh, yang saat itu berada dalam Nanggroe Nisam dan saat inilah lahir Putri Bungsunnya Cut Aceh Neksom atau Hj. Atjeh Neksom. Aceh sendiri pada saat itu tengah mengalami masa-masa sulit pasca bergabung dengan NKRI, dimana Daerah Istimewa Aceh digabungkan dengan Provinsi Sumatera Utara, dan berbagia konflik pecah di Aceh ketika itu. Dan sekembalinya ke kampung halaman Teuku Bujang bergabung dengan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) sambil meletakkan pondasi pembagunan pusat pendidikan dan membangun Ibukota Kecamatan Nisam, yang bernama Krueng Geukueh ketika itu, beliau juga mengirim guru-guru di Krueng Geukueh untuk belajar ke Padang dan seterusnya mendidik anak-anak Krueng Geukueh dan sekitarnnya disekolah MIN, MTsN dan PGA yang beliau bangun di tanah yang telah dihibahkan dekat sebelah Utara Masjid Besar Bujang Salim. Teuku Bujang meninggal pada 14 Januari 1959 dan dimakamkan dekat Masjid Besar Bujang Salim yang dibangun atas prakarsanya.

Teuku Banta Luthan, merupakan putra dari Ulee Balang Nisam Teuku Rhi Mahmud, lahir di Keude Amplah Nisam pada tahun 1897. Beliau menggantikan posisi abangnya Teuku Bujang Salim yg dipecat oleh pemerintah belanda sebagai zelfbesturder pada tahun 1925 dan berakhir sejak pemerintah belanda digantikan oleh penjajahan jepang pada 1942. Selanjutnya, Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah, lahir pada 1890 di Peusangan Barat putra semata wayang dari Teuku Chik Syamaun. Sebelum Teuku Chik Syamaun wafat pada 1899, beliau telah mewasiatkan putranya Teuku Chik Johan Alamsyah di hadapan assisten residen Belanda kapten G.A Scherer di Lhokseumawe yang disaksikan oleh teuku muda Peusangan Maharaja Jeumpa sebagai walinya, bahwa kelak putranya jika telah cukup umur akan menggantikannya sebagai ulee balang peusangan. Sementara Teuku Chik Johan Alamsyah belum cukup umur, maka posisi Ulee Balang Peusangan sementara dijabat oleh walinya yaitu Teuku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa. Sesuai dengan perjanjian, pada Tahun 1900 beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di "Sekolah belanda'" (Kweekschool) di Kutaraja. Teuku Chik Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di HIS sekolah dasarnya Belanda sekitar 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah Normal School setingkat SMA sekarang. Pada tahun 1908 Teuku Muhammad Johan Alamsyah diangkat menjadi zelfbesturder Peusangan setelah beliau lulus dari Normaal scholl di kuta Raja. Beliau menggantikan pamannya Teuku Moeda Peusangan Maharaja Jeumpa. Kemudian pada tahun 1938 bersama adiknya Teuku bustamam mendirikan sebuah lembaga pendidikan islam Al Muslim bersama tokoh lain diantaranya, Tgk Hasan Ibrahim Awee Geutah, Tgk Izzuddin AB Neuheun, Tgk Habib Mahmud Meunasah Meucap, Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap, Tgk H. Mahyeddin Uteun Gathom, Tgk H. M. Amin Bugak, Tgk M. Amin Meunasah barat, Tgk M. Abbas Bardan jangka, Tgk M. Abed Idham pante ara, Tgk Usman Aziz lhoksukon, Tgk Ibrahim Zen Meunasah dayah, Teuku Peutua Syah Bugak, Tgk Usman Basyah leubue, Teuku Hasan cut jeumpa bireuen, Teuku M. Ali Leubue, dan Teuku H.M Ali Blang Asan. Lembaga pendidikan Al Muslim merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Al Muslim, Bireuen. Setahun kemudian ditempat yang sama tepatnya tahun 1939 bersama Tgk Daod Bereueh dan Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap Geulumpang Dua yang juga menjabat sebagai ketua lembaga pendidikan Islam Al Muslim mendeklarasikan terbentuknya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di Matang Geuleumpang Dua. Beliau wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di sekitar Padang Bulan, Medan.

 **Referensi dari berbagai sumber**


Related Posts:

Pemerintah Gampong Karieng Tuntaskan Pembagian BLT


Pemerintah Gampong Karieng Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen telah menuntaskan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Bantuan untuk warga imbas corona yang berasal dari Dana Desa (DD) senilai Rp. 113.400.000.- sudah diterima sampai tahap akhir. 

Keuchik Gampong Karieng, Yahya Muhammad kepada jurnalis warga menyampaikan bahwa tiga tahap penyaluran BLT kepada 63 KK imbas corona telah diselesaikan dengan baik. 

"Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari dana desa ini diberikan sesuai dengan instruksi Mentri Desa, dalam rangka mengurangi beban masyarakat yang terdampak ekonomi oleh pandemi Covid-19. Alhamdulillah sudah selesai kita bagikan semuanya mulai tahap pertama sampai tahap tiga," ungkapnya usai pembagian BLT tahap tiga di Kantor Keuchik setempat (10/7/2020).

Dengan jumlah anggaran senilai Rp. 600.000,-/KK selama tiga bulan telah diterima dengan baik. Sementara untuk program selanjutnya akan dimusyawarahkan kembali sesuai dengan kebutuhan gampong. 

Disamping penanganan secara sosial ekonomi, Pemerintah Gampong Karieng selama ini telah siap menghadapi pandemi Corona dengan melakukan penyemprotan disinfektan pada fasilitas umum dan rumah warga serta menyediakan tempat bagi warga yang baru pulang dari luar kota.

Antisipasi dini yang dilakukan pemerintah setempat telah berhasil meredam penyebaran Covid-19 di wilayah Gampong Karieng. JW/Rahmadsyah

Related Posts:

PERAN PEMERINTAH TERHADAP PENDIDIKAN SELAMA PANDEMI COVID 19 DI KABUPATEN BIREUEN

 

1. 

Foto: Talkshow Radio (12/6/2020)

Berdasarkan surat dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen intruksikan semua sekolah di lingkungan kedinasan untuk aktif pada tanggal 13 Juli 2020. Dalam proses menghadapi sistem belajar tatap muka pada masa new normal ada syarat yang sudah disusun oleh Kemendikbud bagi Dinas Pendidikan dan sekolah yang ingin kembali menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama yang wajib dipenuhi jika akan melakukan pembelajaran tatap muka. Kedua, aktivitas tersebut bisa dilakukan jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin. Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Selama belajar di rumah, paket internet yang digunakan oleh guru atau siswa/ murid untuk belajar dengan sistem daring (online) dibiayai oleh dana BOS. Karena mayoritas ada informasi yang tidak tersampaikan, maka penggunaan paket internet bisa diremburse (dibayar kembali) oleh pihak sekolah kepada guru atau siswa. Dengan catatan dibuktikan dengan bon/ faktur pembeliaan kartu atau paket internet, dan screenshot bukti belajar online. Disisi lain, pemerintah dan seluruh elemen kembali menguatkan kolaborasi yang belum maksimal, menjadikan pandemic Covid-19 sebagai pembelajaran dan perbaikan untuk dunia pendidikan di Indonesia. Bagi guru yang ingin mengembangkan kapasitasnya dan mencari ruang diskusi terkait pendidikan di wilayah Kabupaten Bireuen bisa bergabung dalam komunitas GURU JUANG dengan menghubungi contact 0852 7610 0343. (Narsum: M. Nasir dan Novianti MR)


 


Related Posts:

Dilaunching, Seuneubok Rawa Menuju Gampong Layak Anak


Gampong Seuneubok Rawa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen resmi dilaunchingkan sebagai gampong layak anak tahun 2020. Bersama Forum Anak (FA), acara launching Seuneubok Rawa menuju gampong layak anak sukses digelar. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Meunasah setempat, 28/6/2020.

Tujuan pelaksanaan launching adalah sebagai awal komitmen aparatur gampong dalam mewujudkan hak-hak anak melalui program pembangunan yang ada.

Dalam sambutannya Keuchik Seuneubok Rawa, Ruslan, S,Sos menyampaikan komitmennya untuk mewujudkan gampong layak anak dan memenuhi semua kebutuhan mereka.

"Sebagai keuchik saya akan menjamin semua kebutuhan anak terpenuhi dengan baik dan bersama aparatur lainnya untuk mewujudkan gampong layak anak kedepan,"paparnya.

Ruslan juga merasa bangga karena pihak kabupaten telah memilih Seuneubok Rawa sebagai gampong layak anak dan mendapat binaan dari banyak pihak.

Camat Peusangan, Ibrahim, S.Sos mendukung program tersebut demi kemajuan gampong dibawah pimpinannya.

"Saya mendukung segala aktivitas yang baik demi mewujudkan kemandirian dan kemajuan gampong. Kami berharap pihak kabupaten dan propinsi bisa membinanya agar berhasil dan maju,"  pungkasnya.

Pembukaan acara launching dipandu oleh Amrina Habibi, S.H, M.H Kabid Pemenuhan Hak Anak Propinsi Aceh. Dalam sambutannya Amrina menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah desa yang mahu memikirkan kesejahteraan anak melalui program-program yang ada di desa.

"Saya senang sekali dan apresiasi kepada keuchik gampong yang penuh inovasi untuk mewujudkan kebutuhan anak. Forum anak yang sudah terbentuk menjadi media untuk menyuarakan keinginan anak di desa," kata Amrina.

Didampingi aparatur, acara launching difasilitasi oleh Forum Anak Gampong Seuneubok Rawa.

Rifaul Muzammil pemandu acara dari FA menyampaikan rasa bahagianya atas kepercayaan yang diberikan kepada anak-anak dalam mengisi kegiatan tersebut.

"Meskipun ini pertama kali saya berdiri sebagai protokol dan memandu acara, saya tidak merasa takut malah sangat senang mendapatkan kepercayaan seperti ini. Kami merasa dihargai dan memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi semua anak dalam forum yang dihadiri semua pihak," ungkap Rifaul usai kegiatan kepada jurnalis warga.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kabid Pemberdayaan Anak dan Perempuan Kabupaten Bireuen Rosdiana, Sp, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD), Babinsa dan Direktur PT. Takabeya Perkasa Group, H. Mukhlis, A.Md. JW/Yulyani 

Related Posts:

JW Bireuen Mengikuti Pelatihan Jurnalistik Dasar


Bireuen – Jurnalis Warga (JW) Wilayah Bireuen mengikuti pelatihan dasar dan kepenulisan berita yang dipandu oleh narasumber  ahli yang merupakan Dosen juga Jurnalis asal Kabupaten Bireuen, Hamdani SE MSM.

Kegiatan ini perdana dilaksanakan pasca New Normal  disalah satu warkop Kecamatan Peusangan, Sabtu (20/6/2020).

Pelatihan ini bertujuan untuk peningkatan kapasitas jurnalis warga dalam menulis berita yang difasilitasi oleh Koordinator Jurnalis Warga, Nurmalis.

“Harapan dan tujuan kegiatan ini agar Sahabat JW Bireuen mampu menulis berita dan membuat opini secara mandiri, sehingga informasi awal tersampaikan ke masyarakat secara langsung melalui website JW”, kata Nurmalis.

Disisi lain, Hamdani sebagai narasumber tunggal menyampaikan,“output pelatihan agar peserta peka dan paham akan jurnalistik, selain untuk menghasilkan berita JW Bireuen juga mampu menulis opini dan artikel yang akan dipublis di media cetak”, tutup Hamdani. JW/ RAS

Related Posts:

Warga Seuneubok Rawa Terima BLT Tahap Ke-2


Warga Gampong Seuneubok Rawa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen kembali menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap ke-2. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh aparatur gampong di Gedung Serba Guna setempat, Rabu (9/6/2020). 

Faisal (30) salah satu kepala rumah tangga yang menerima BLT merasa bersyukur dan akan memanfaatkan dengan baik bantuan tersebut.

"Alhamdulillah, ini akan saya manfaatkan dengan baik selama kondisi belum stabil ditempat kerja saya. Saya bekerja sebagai pegawai salah satu grosir di Bireuen, selama corona gaji saya sedikit berkurang karena barang-barang tidak laku seperti biasanya," kata Faisal kepada jurnalis warga usai menerima BLT. 

Keuchik Gampong Ruslan berharap semua masyarakatnya dapat hidup sejahtera walaupun ditengah pandemi corona. 

"Saya sangat berharap semua warga sejahtera secara sosial ekonominya, dengan begitu kami aparatur merasa berguna sebagai pemimpinnya," ungkap Ruslan yang ditemui di kantor keuchik setelah pembagian BLT. 

Adapun jumlah penerima BLT tahap ini masih sama dengan bulan lalu yaitu sebanyak 43 KK. Saat ini semua warga gampong Seuneubok Rawa selain PNS telah mendapatkan bantuan ekonomi baik melalui program PKH, BST maupun BLT. Yulyani/JW 

Related Posts:

Pemerintah Gampong Pulo Pisang Kembali Salurkan BLT Kepada Masyarakat


Pemerintah Gampong Pulo Pisang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen kembali salurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat imbas corona. Kegiatan tersebut berlangsung di Meunasah setempat, Rabu (3/6/2020).

Keuchik Gampong Pulo Pisang, Mustafa A. Jalil dalam pembukaan acara menyampaikan kepada masyarakat agar menggunakan dana tersebut untuk hal-hal yang penting saja. 

"Pakai uang itu untuk keperluan yang penting jangan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat," paparnya.

Camat Peusangan turut mendampingi proses pembagian BLT tersebut dan penyerahan secara simbolis dilakukan langsung oleh Ibrahim, S.Sos.

Pada kesempatan tersebut, Ibrahim juga menegaskan kepada keuchik gampong agar mengelola dengan baik dana desa untuk BLT.

"BLT ini kelola dengan benar dan jangan gunakan anggaran tersebut untuk berfoya-foya," tegas Camat Peusangan.

Adapun penerima BLT tahap ini masih sama dengan sebelumnya yaitu sebanyak 48 KK dan jumlah dana sebesar Rp. 600.000.

Jurnalis Warga/Meutia Sari 

Related Posts:

Yulyani, JW Perempuan Yang Terlibat Sebagai Relawan COVID 19


Ditengah pandemi corona, masyarakat yang terkena imbas telah mendapatkan berbagai bantuan baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Yulyani (29) salah satu Jurnalis Warga (JW) perempuan dari Gampong Seuneubok Rawa menyampaikan pengalaman sebagai relawan tim pembagian sembako bagi masyarakat imbas corona.

Yulyani mengaku ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi relawan dalam rangka membantu masyarakat. Sebagai perempuan, ia merasa senang dan percaya diri bergabung dalam tim relawan bersama teman-teman lain yang kebanyakan lelaki.

"Ini pengalaman pertama saya menjadi relawan,  saya sangat senang mendapatkan kepercayaan untuk bergabung dengan yang lain dalam membantu warga kesusahan," ungkapnya kepada kabarjw (2/6).

Adapun wilayah kerja yulyani untuk menyalurkan bantuan tersebut adalah Desa Cot Kumudee, Matang Mamplam dan Gampong Baroe Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen.

"Dengan terjun langsung ke desa saya bahagia karena bisa melihat kebahagiaan mereka saat menerima bantuan tersebut," lanjutnya.

Yulyani mengaku ia bukan satu-satunya perempuan yang terlibat dalam aktivitas kemanusiaan itu, namun ada beberapa rekannya juga yang ikut serta menjadi relawan Covid 19. Aktivitas tersebut ikut dibantu juga oleh babinsa dan anggota kepolisian setempat untuk menjaga keamanan selama kegiatan berlangsung.

Related Posts:

Menjelang Idul Fitri, Keuchik Alue Peuno Serahkan BLT Tahap Ke-2


Zulfa Amiruddin, Keuchik Gampong Alue Peuno Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen kembali serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi warga imbas Covid 19.  Penyerahan tersebut berlangsung dengan tertip di Meunasah setempat, Jumat (22/5). 

Zulfa berharap bantuan tahap ke-2 dengan nominal sama seperti sebelumnya dapat bermanfaat untuk kebutuhan menjelang idul fitri. 

"Uang ini bisa untuk beli daging atau beli makanan yang bergizi untuk perbaiki daya imun tubuh selama wabah corona. Menjaga kesehatan adalah hal utama yang harus diperhatikan," kata Zulfa.

Jasmanidar (56) salah satu penerima BLT merasa terharu atas bantuan yang diterimanya. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada keuchik gampong yang penuh perhatian terhadap warganya itu.

"Terimakasih banyak pak keuchik atas bantuan kedua kalinya, besok megang dan lusa sudah lebaran, uang ini sangat bermanfaat buat saya. Pak keuchik memang sangat perhatian, saya sangat bersyukur," ungkap perempuan kepala keluarga itu saat diwawancarai JW setelah menerima BLT. 

Penerima bantuan langsung tunai tahap ini adalah warga yang sama sebelumnya. Uang senilai 600 ribu tersebut tinggal satu tahap lagi dan akan dibagikan pada bulan berikutnya. JW/Ruslan

Related Posts:

Patuhi Protokoler Kesehatan, Ketua Pemuda Uteun Bunta Bagi Masker Sebelum Penyerahan BLT


Warga Gampong Uteun Bunta Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen terima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah setempat, Kamis, 21/5/2020. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Keuchik Salamuddin didampingi perangkat lainnya di Meunasah Uteun Bunta. 

"Bantuan ini senilai 600 ribu berasal dari dana desa, saya harap bapak ibu semua dapat memanfaatkan dengan baik untuk kebutuhan ekonomi dan kesehatan,"papar Salamuddin.

Sebelum pembagian sembako, ketua pemuda Sufriadi bagikan masker kepada seluruh masyarakat yang hadir dan memberikan pengarahan agar tetap jaga jarak selama kegiatan berlangsung. 

"Kita tetap harus menjaga jarak dan memakai masker untuk mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah,"katanya sambil membagikan masker. 

Adapun jumlah penerima BLT yaitu sebanyak 104 KK warga imbas corona. Bantuan tersebut akan diberikan selama wabah corona dalam durasi waktu tiga bulan. JW/Nanda

Related Posts:

Pembagian BLT Menjelang Megang, Warga Manfaatkan Untuk Beli Daging


Warga Gampong Pante Gajah Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen manfaatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk belanja hari megang. Hal itu disampaikan langsung oleh Muhammad Nasir M. Syah, salah satu penerima BLT gampong setempat, Kamis  21/5/2020.  

"Alhamdulillah, saya sangat senang karena sudah ada uang untuk beli daging megang," ungkapnya kepada jurnalis warga usai menerima BLT di Kantor Keuchik setempat. 

Camat Peusangan Ibrahim, S.Sos juga berharap demikian. Bantuan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik apalagi sudah menjelang megang.

"Manfaatkan untuk belanja megang uang tersebut jangan beli mainan anak-anak," katanya sambil tersenyum lebar kepada warga imbas Covid 19. 

Kasful Mahdi, ketua Tuha Peut setempat mengungkapkan bahwa data penerima BLT tersebut adalah berdasarkan hasil musyawarah perangkat desa. 

"Kita butuh waktu tiga malam untuk memutuskan penerima BLT, semua hasil tersebut berdasarkan musyawarah dengan perangkat desa," ungkapnya.

Kasful Mahdi juga menambahkan bahwa pihaknya telah berusaha adil dalam melakukan pendataan penerima bantuan tersebut. 

Adapun jumlah penerima  BLT sebanyak 107 KK  dari enam dusun di Gampong Pante Gajah. Uang tunai dari sumber dana desa tersebut senilai 600 ribu dan akan dibagikan selama tiga bulan berturut-turut selama wabah corona. 
JW/Syafiani

Related Posts:

Keuchik Sagoe: BLT-DD Untuk Warga Imbas Corona Tidak Peduli Kaya Atau Miskin



Keuchik Gampong Sagoe Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada warga imbas corona. Penyerahan bantuan tersebut berlangsung di Kantor Keuchik setempat, Rabu, 20/5/2020. 

Mustafa ZA mengatakan bahwa tujuan dari bantuan tersebut adalah untuk meringankan beban ekonomi warga selama mereka tidak dapat beraktivitas seperti biasa.

"BLT ini untuk warga imbas corona yang tidak memiliki penghasilan tetap lagi seperti biasa, meskipun keadaan ekonominya bagus sebelumnya. Kaya atau miskin yang jelas mereka terdampak akibat wabah Covid 19," ungkap Mustafa ZA.

Bantuan yang berasal dari dana desa tersebut diserahkan kepada 89 KK dengan nominal 600 ribu selama tiga bulan. Mustafa berharap dana tersebut dapat digunakan untuk hal yang bermanfaat.  

"Gunakanlah untuk hal yang bermanfaat walau uangnya sedikit, semoga berkah," katanya kepada penerima BLT. JW/Novita Sari

Related Posts:

Sebanyak 100 KK Terima BLT-DD di Gampong Paya Meuneng


Pemerintah Gampong Paya Meuneng Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat yang terkena imbas Covid 19. Didampingi Camat Peusangan Ibrahim, S,Sos, bantuan tersebut diterima langsung oleh 100 KK di Meunasah setempat Rabu, 20/05/2020.

Camat Peusangan berharap bantuan tersebut berguna untuk kebutuhan ekonomi warga setempat selama wabah corona.

"Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan berguna untuk kebutuhan sehari-hari selama wabah corona," papar Ibrahim.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Keuchik setempat Edinurman kepada semua penerima BLT. Ia berharap warganya dapat terbantu dengan adanya bantuan tersebut. 

"BLT dengan nominal 600 ribu dari dana desa ini akan diberikan secara bertahap selama tiga bulan berturut-turut," tambahnya. JW/Mulyati

Related Posts:

Pesan Keuchik Pulo Pisang, Mustafa A. Jalil: Masyarakat Jangan Salah Gunakan BLT


Mustafa A. Jalil Keuchik Gampong Pulo Pisang Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen berpesan kepada masyarakatnya agar tidak menyalahgunakan BLT yang telah mereka terima. Hal itu disampaikan langsung saat proses penyerahan Bantuan Langsung Tunai tersebut di Meunasah setempat, Rabu (20/5).

"Saya pesan bagi semua masyarakat yang sudah menerima BLT tidak salah gunakan, pakailah untuk keperluan yang penting-penting saja," paparnya.

BLT yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) 2020 tersebut diserahkan kepada 48 KK imbas Covid 19. Uang sejumlah 600 ribu itu akan disalurkan secara bertahap selama tiga bulan mulai April sampai Juni.

Mustafa A. Jalil juga berharap bantuan tersebut dapat berguna bagi masyarakat demi meringankan beban ekonomi selama wabah corona. 

"Berharap bantuan ini bermanfaat bagi masyarakat dan dapat meringankan beban ekonomi selama wabah corona ini," tambahnya. JW/Meutia Sari 

Related Posts:

Keuchik Meunasah Nibong Komitmen Fasilitasi Warganya Untuk Mendapatkan Bantuan


Mulyadi, Keuchik Gampong Meunasah Nibong Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen komitmen untuk memfasilitasi warganya agar mendapatkan bantuan. Hal itu dilakukan oleh Mulyadi untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh warga yang berhak menerima bantuan.

"Saya upayakan semua  warga yang membutuhkan bantuan dapat memperolehnya, supaya adil dan merata," ungkap Mulyadi kepada jurnalis warga (19/5).

Mulyadi yang dijumpai saat mendampingi agent Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) bagikan sembako di gampongnya,  mengatakan hampir semua warganya telah menerima bantuan atau paket sembako imbas corona. 

"Sekarang alhamdulillah sudah hampir merata bantuan yang diperoleh setiap warga, hanya tinggal tiga KK lagi yang belum terima bantuan. Sudah kita ajukan ke kecamatan juga untuk penerima bantuan tahap selanjutnya, bahkan kita juga telah diminta data oleh Polsek Peusangan untuk diberikan bantuan,  semoga ada rezeki nanti dari mereka," paparnya. JW/Ilham

Related Posts:

Pemerintah Gampong Seuneubok Rawa Bagikan BLT Kepada 43 KK Imbas Corona


Pemerintah Gampong  Seuneubok Rawa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat imbas Covid 19. 

Keuchik Ruslan, S.Sos menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada 43 KK di Gedung Serbaguna setempat, Selasa, 19 Mei 2020.

Ruslan menyampaikan bahwa bantuan imbas covid-19 tersebut berasal dari anggaran pendapatan dan belanja gampong (APBG) 2020.

"BLT-DD merupakan bagian bantuan sosial untuk meringankan beban ekonomi mansyarakat selama wabah corona," kata Ruslan.

Nurjannah, salah satu penerima BLT merasa bersyukur atas perhatian pemerintah yang dapat meringankan beban ekonominya saat ini.

"Saya senang karena bisa mendapatkan BLT, ini sangat berguna bagi saya dan keluarga," ungkap Nurjannah. 

Proses penyerahan BLT ikut didampingi oleh Pendamping Lokal Desa (PLD) dan Babinsa setempat. Bantuan langsung tunai tersebut akan diberikan secara bertahap selama tiga bulan berturut - turut yaitu April, Mei dan Juni. JW/Yulyani.

Related Posts:

Warga Meunasah Nibong Bersyukur Diberikan BLT

Terkait pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari alokasi Dana Desa, Warga Gampong Meunasah Nibong Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen ucapkan ucapkan rasa syukur. 

Ahyar (38) salah satu penerima BLT mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada JW saat diwawancarai usai penyerahan bantuan di kantor keuchik setempat, Selasa (19/5).

"Saya sangat bersyukur karena diberikan uang oleh pemerintah desa, uang ini bisa saya gunakan untuk keperluan keluarga saya apalagi sebentar lagi mahu lebaran, jadi cukup untuk membeli daging saat megang," ungkap Ahyar.

Keuchik Mulyadi, merasa tersanjung atas tanggapan warganya yang sangat positif dalam menerima bantuan tersebut. Ia berharap semua warganya dapat hidup sejahtera dan tanpa kekurangan dimasa wabah corona ini.

"Saya berharap semua warga bahagia, hidup sejahtera tanpa kekurangan ekonomi walau sedang dalam kondisi seperti ini. Alhamdulillah yang berhak menerima BLT sekarang berjumlah 47 KK," kata Mulyadi diwaktu yang sama. JW/Ilham 

Related Posts:

Terbatasnya Ruang Belajar Karena Corona, JW Kesulitan Menulis

Kordinator Jurnalis Warga Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (KJW PPMN) Kabupaten Bireuen Nurmalis adakan pertemuan online bersama 12 JW dalam kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen, Senin, 18/5/2020.

Pertemuan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk melakukan diskusi serta mengulik kendala bagi setiap jurnalis warga dalam menjalankan aktivitas dilapangan. Jurnalis warga diharapkan mampu menghasilkan dua tulisan setiap bulan sebagai langkah untuk mengasah kemampuan jurnalistiknya. 

"Sejauh ini masih banyak jurnalis warga yang belum menghasilkan tulisan karena berbagai kendala, terutama kemampuan menulis yang masih terbatas karena baru mejelang dua bulan terlibat dalam komunitas JW," papar Nurmalis 

Disamping itu, mengutip dari hasil meeting online, kendala lain yang dihadapi oleh komunitas jurnalis warga adalah terbatasnya ruang aktivitas karena wabah corona. 

"Harusnya bagi jw baru seperti kita bisa diadakan mentoring setiap bulan untuk peningkatan kapasitas ilmu jurnalistik, namun karena corona kita tidak bisa mengikuti pertemuan secara langsung. Hal ini menyebabkan  kurang bimbingan teknis dalam menulis, kita hanya mengandalkan pembelajaran secara online," ungkap Mutia Sari salah satu peserta JW dari Gampong Pulo Pisang. 

Nurmalis juga menambahkan bahwa pada Juni mendatang anggota jurnalis warga akan membuat vidio edukasi singkat terkait wabah corona. Pembuatan vidio tersebut selain bermanfaat bagi penonton juga dapat meningkatkan kapasitas jurnalis warga dalam jurnalistik vidio. JW/Ruslan 

Related Posts:

Agent SPAK Serahkan Sembako Bagi Warga Alue Peuno Yang Belum Tersentuh Bantuan



Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) Jakarta salurkan  sembako bagi masyarakat yang belum tersentuh bantuan dari pemerintah. Tujuh KK dari Gampong Alue Peuno Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen mendapatkan bantuan tersebut, Senin (18/5). 

Nurmalis, Agent SPAK Bireuen menyerahkan langsung paket sembako tersebut kepada masyarakat imbas Covid 19 yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. 

"Sebelumnya kita sudah  meminta kepada pak keuchik untuk mendata warganya yang belum menerima bantuan imbas corona dari pemerintah atau pihak lainnya. Kebetulan ada tujuh KK yang kita terima sehingga hari ini kita turun langsung untuk menyerahkan sembakonya," kata Nurmalis.

Penyerahan sembako tersebut turut didampingi oleh Keuchik setempat Zulfa Amiruddin. Menurutnya, aksi pembagian sembako kepada masyarakat yang belum tersentuh bantuan ini sangat tepat. 

"Saya sangat senang atas bantuan yang diberikan oleh SPAK karena dengan demikian warga saya telah merata mendapatkan bantuan sembako saat ini. Sebelumnya tidak tercover semua karena keterbatasan data yang kami ajukan ke dinas sosial," ungkapnya kepada jurnalis warga usai mendampingi agent SPAK dilapangan.

Adapun paket sembako yang diberikan adalah berupa beras, minyak goreng, gula dan telur. Sembako tersebut dibelanja langsung oleh Agent SPAK di warung terdekat gampong setempat. JW/Ruslan

Related Posts:

20 KK di Seuneubok Rawa Terima Sembako Dari SPAK Jakarta


Sebanyak 20 kepala keluarga di Gampong Seuneubok Rawa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen terima sembako dari Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh agent SPAK Bireuen pada minggu, 17/5/2020.

Paket sembako berupa beras, telur, gula pasir dan minyak goreng diberikan langsung kepada warga yang belum menerima bantuan pemerintah atau dari lembaga lain. Nurmalis agent SPAK Bireuen menyampaikan bahwa paket sembako tersebut berasal dari donatur INITARKI yang disalurkan melalui Gerakan SPAK Jakarta. 

"Kita hanya mendistribusikan saja amanah dari donatur  INITARKI yang disalurkan melalui SPAK Jakarta. Kita dilapangan bekerja sebaik mungkin sebagai relawan anti korupsi yang terus peduli dengan keadaan sekeliling," ungkap Nurmalis.

Keuchik Gampong Seuneubok Rawa apresiasi dan berterimakasih kepada agent SPAK yang telah menyalurkan bantuan kepada warganya.

"Terimakasih atas kepeduliannya terhadap masyarakat kami, sungguh sangat bermanfaat bantuan yang diberikan tersebut karena mereka belum menerima sembako dari pemerintah dan pihak lainnya," kata Ruslan saat dijumpai jurnalis warga di warung PKK ketika mendampingi agent SPAK belanja sembako. JW/Yulyani 

Related Posts:

Didampingi Camat Peusangan, Pj. Keuchik Kapa Serahkan BLT Kepada Masyarakat


Pemerintah Gampong Kapa Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat imbas Covid 19. Didampingi Camat Peusangan Ibrahim, S.Sos bantuan tersebut diserahkan kepada 42 KK di Meunasah setempat, Minggu, 17/5/2020.

Camat Peusangan berharap kepada pemerintah desa agar menangani dengan baik proses penyerahan BLT dan tidak menjadi bahan pertikaian antar masyarakat. 

"Saya harap aparatur gampong dapat menangani dengan baik bantuan imbas covid 19 ini agar masyarakat mendapat manfaat dan tepat sasaran," ungkap Ibrahim. 

Rahmadsyah Harahap Pj. Keuchik Gampong Kapa juga menyampaikan bahwa bantuan imbas Covid 19 tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) 2020. 

"BLT-DD merupakan bagian bantuan sosial imbas covid 19 untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak secara sosial ekonomi," paparnya saat pembukaan kegiatan.

Rahmadsyah Harahap juga berharap bantuan senilai 600 ribu per KK yang diberikan kepada masyarakat tersebut dapat digunakan dengan baik untuk kebutuhan ekonominya. BLT tersebut akan diberikan secara bertahap selama tiga bulan berturut-turut.  JW/Rahmadsyah.

Related Posts:

Keuchik Alue Peuno Serahkan BLT Kepada 64 KK Imbas COVID 19



Pemerintah Gampong Alue Peuno serahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada 64 KK imbas Covid 19. BLT tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG) 2020 dengan jumlah dana senilai 600 ribu per KK.

Penyerahan secara simbolis didampingi langsung oleh Camat Peusangan, Ibrahim S.Sos di Meunasah Alue Peuno, Sabtu (16/5).

"Bantuan langsung tunai ini akan diberikan selama tiga bulan berturut-turut dengan nominal yang sama. Saat ini kita berikan satu bulan dulu karena bisa jadi aturannya berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi selama wabah Corona," paparnya Camat Peusangan.

Keuchik Alue Peuno, Zulfa Amiruddin menyampaikan bahwa BLT tersebut  diberikan kepada keluarga imbas Covid 19 dan kategori kurang mampu.

"Data penerima BLT tersebut kita dapatkan berdasarkan hasil musyawarah dengan tuha peut dan perangkat lainnya di desa. Mereka adalah keluarga yang benar-benar patut untuk diberikan bantuan," ungkap Zulfa kepada kabarjw disela penyerahan BLT. JW/Ruslan 

Related Posts:

397 KK di Peusangan Terima Bantuan Sembako Dari APBA


Sebanyak 397 kepala keluarga dampak COVID 19 di Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen terima bantuan sembako dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), Sabtu (16/5/2020).

Camat Peusangan Ibrahim, S. Sos menyampaikan bahwa daftar penerima bantuan sembako dari APBA berdasarkan hasil imput data online yang dilakukan secara mandiri.

"Tidak semua keluarga mendapatkan bantuan sembako, hanya yang berhak saja. Sebelumnya bantuan sembako dari APBK juga sudah diterima dan tepat sasaran," ungkap Ibrahim saat pembagian sembako di Balai Desa Kantor Camat Peusangan.

Proses imput data penerima sembako atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) juga didampingi oleh para pekerja sosial yang ada di daerah sehingga penerimanya tepat sasaran. Ibrahim juga menambahkan, dari 69 gampong di Kecamatan Peusangan hanya 40 gampong yang mendapatkan bantuan tersebut. JW/Rahmadsyah Harahap

Related Posts:

BEM FK Unimal bersama IDI Lhokseumawe Salurkan 1250 Masker untuk Masyarakat


Mewabahnya virus Corona berakibat pada menurunnya perekonomian dunia serta melonjaknya harga kebutuhan masyarakat.   Banyak pihak yang kemudian saling bahu membahu mengulurkan bantuan dengan berbagai cara.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malikussaleh (Unimal) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lhokseumawe menggelar aksi gerakan 1000 masker.

Aksi ini dilakukan bertahap sejak Selasa (23/4/2020) dengan titik pembagian yang berbeda di seputar Lhokseumawe.

Ketua BEM FK Unimal, Farid Husaini mengungkapkan rasa terimakasih terhadap donatur.

"BEM FK Unimal bekerjasama dengan IDI Lhokseumawe telah menyalurkan 1250 masker untuk masyarakat di beberapa titik berbeda sejak 23 April lalu. Untuk itu kami ucapkan terimakasih banyak  kepada donatur, guru, senior dan semua pihak yang terlibat dalam aksi tersebut," katanya, Selasa (28/4/2020).

Adapun tujuan pembagian masker ini, Kepala Departemen Infokom BEM FK Unimal, Muhammad Naufal Arif mengatakan pembagian masker sebagai bentuk pencegahan akan penyebaran virus Corona yang semakin bertambah.

“Tujuan dari kegiatan pembagian masker ini adalah sebagai bentuk pencegahan akan penyebaran corona yang semakin bertambah signifikan dalam beberapa hari ini," katanya.

Ia juga berharap agar masker yang dibagikan dapat digunakan oleh masyarakat ketika terpaksa melakukan aktivitas di luar rumah.

"Kami berharap agar masker yang sudah dibagikan selalu dipakai ketika keluar dari rumah, karena ini bisa menjadi alat untuk memproteksi diri kita dari penyebaran virus Corona ini," ujarnya. JW/Rahmad 

Related Posts:

Seminar Online, Rahmad Asri Sufa: Pemuda Tidak Boleh Berhenti Berfikir


Bireuen - Mewabahnya Pandemi virus Corona atau Covid-19 di seluruh dunia, memicu setiap aktivitas yang dilakukan oleh warga, tak terkecuali Indonesia. Covid-19 hadir di Indonesia seakan-akan pahlawan di siang bolong yang meluluhlantakkan setiap aktivitas di kalangan masyarakat. Diantaranya Provinsi Aceh yang begitu terdampak dari Covid-19, sehingga aktivitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, juga pendidikan begitu merosot, sehingga proses belajar mengajar (PBM) di sekolah/universitas terhenti, Sabtu (25/4/2020)

Rahmat Asri Sufa, Tokoh muda Aceh intens menumbuhkan inovasi dan menginisiasi pembelajaran secara online melalui Room Discussion.

"Iya Alhamdulillah, ini diskusi ke 7 secara daring yang saya laksanakan, dan spesialnya kita Menyambut awal Ramadhan dengan mengangkat tema 'Solidarits Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19', sehingga kaula muda tidak terhenti dalam berpikir dan tetap kritis mengikuti diskusi secara daring ini", tegas Dosen muda ini

Ruang diskusi tersebut melibatkan narasumber dari tiga daerah yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Kalimantan Timur.

"Room Discussion ini menghadirkan 3 narasumber dari berbagai daerah diantaranya, Tgk. Khairul Laweung, M.Ag  Dosen UIN Ar-Raniry juga aktivis sosial dan sekarang dipercayakan sebagai pansus Pemda Aceh dalam penanganan covid-19, Dini Hikmayani Nasution, M.Si Dosen yang juga Tokoh Perempuan Sumatera Utara, dan Daniel Abadi Sihotang, ST tokoh muda asal Kaltim yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Umum DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Provinsi Kaltim", ujar Rahmat

Disisi lain, Tgk. Khairul Laweung, M.Ag menegaskan bahwa anak muda Aceh harus bergerak dan menjalankan protokol pemerintah dalam penanganan virus corona.

"Kaum muda Aceh harus terus berbuat dan tetap mengikuti protokol pemerintah dalam penanganan covid-19, semoga kita menyambut Ramadhan ini dengan penuh Rahmat", ungkap Sekjend Karang Taruna Aceh sekaligus Ketua ISKADA Aceh ini

Menurut Dini  Hikmayani Nasution, perempuan juga bisa berkiprah di rumah melalui home industri dan skill yang memadai, walaupun di tengah wabah, inspirasi harus tetap jalan.

Sementara Daniel Sihotang menyampaikan bahwa nilai solidaritas umat islam dalam bulan ramadhan sangat terasa dan mereka saling membantu di Kaltim.

"Solidaritas Ramadhan untuk saudaraku yang beragama Islam sangatlah terasa, saya memiliki banyak teman Muslim dan saling berbagi di Bulan Ramadhan, bahkan kami di Kaltim sering bergotong royong dalam skala besar bersama pemuda dan warga NU juga Muhammadiyah di sana", tutup Daniel yang juga Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mulawarman. JW/Rahmad 

Related Posts: