KABARJW — Ketika banjir bandang menerjang
sejumlah wilayah Aceh sejak 26 November 2025 hingga Februari 2026, ribuan warga
kehilangan tempat tinggal dan akses logistik. Di tengah situasi darurat
tersebut, panggilan kemanusiaan menggerakkan nurani Fauzul Azkia untuk terjun
langsung sebagai relawan aktif di Endatoe Foundation.
Bagi Fauzul, aksi kemanusiaan bukan
sekadar agenda rutin membagikan paket bantuan. Ada tanggung jawab moral yang
jauh lebih besar di baliknya.
"Aksi kerelawanan bukan
sekadar membagikan bantuan, tetapi memastikan logistik tersebut benar-benar
sampai ke tangan mereka yang paling membutuhkan," ujar Fauzul saat ditemui
di sela-sela aktivitasnya.
Bersama Tim Endatoe Emergency
Response, Fauzul menembus berbagai rintangan untuk menyalurkan bantuan
logistik ke daerah terisolasi, mulai dari Kabupaten Aceh Tengah, Bireuen,
hingga pedalaman Langkahan di Aceh Utara. Akses jalan yang rusak parah dan
berlumpur tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya.
Melalui konsolidasi yang matang di
tengah keterbatasan sarana, Fauzul dan tim berhasil menyalurkan sekitar 1,5 ton
logistik darurat kepada masyarakat terdampak. Bagi lulusan Pendidikan Ekonomi
Universitas Syiah Kuala berpredikat cum laude ini, empati harus
diwujudkan dalam tindakan nyata.
"Peduli itu berarti hadir
langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar merasa prihatin dari
kejauhan," tegasnya.
Kiprah Fauzul tidak berhenti di
medan bencana. Latar belakang pendidikannya di bidang ekonomi membentuk cara
pandangnya yang kritis terhadap isu pemberdayaan masyarakat. Ia menyadari bahwa
bantuan darurat hanya menyelesaikan masalah sesaat, sedangkan masyarakat
membutuhkan solusi keberlanjutan.
"Masalah sosial dan ekonomi
tidak cukup diatasi dengan bantuan sementara. Warga membutuhkan akses
pengetahuan, teknologi, jaringan, dan peluang nyata untuk bisa mandiri secara
ekonomi," ungkap Fauzul.
Pemikiran tersebut melahirkan FDesign
Indonesia, sebuah inisiatif yang berfokus membantu pelaku usaha mikro,
kecil, dan menengah (UMKM) dalam membangun identitas visual secara profesional.
Tidak berhenti di situ, Fauzul juga merancang FOID AI, sebuah asisten
virtual berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang
terintegrasi dengan aplikasi WhatsApp.
Inovasi tersebut lahir dari
pengamatannya terhadap para pelaku usaha lokal yang kerap kesulitan mengadopsi
teknologi digital. Bagi Fauzul, teknologi hendaknya dirancang secara praktis
dan solutif agar dapat dijangkau oleh semua kalangan.
Semangat inovasi ini beririsan
langsung dengan misi Endatoe Foundation melalui program Endatoepreneur
dan Endatoe Academy, yang berfokus pada kemandirian ekonomi masyarakat.
Pengalaman lapangan dan keahlian
teknologi Fauzul saling melengkapi. Saat darurat bencana melanda, ia hadir
menyalurkan bantuan logistik. Di hari biasa, ia merancang sistem dan teknologi
untuk pemberdayaan jangka panjang.
Dedikasi dan inovasinya turut
mengantarkan Fauzul meraih berbagai prestasi bergengsi, di antaranya Juara 1 Pitching
Competition Wirausaha Merdeka 2024 dan Juara 1 AI Talent Hub Indonesia
2025.
Kehadiran Fauzul Azkia membuktikan
bahwa aksi berbagi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk—baik berupa bantuan
logistik di medan yang sulit, curahan waktu untuk mendampingi warga, maupun
inovasi teknologi yang meretas kemandirian.
"Teknologi akan jauh lebih
bermakna jika diperuntukkan bagi kemanusiaan. Begitu pula prestasi, ia baru
bernilai tinggi jika mampu memberi manfaat nyata bagi sesama," pungkas
Fauzul.
Afrizal/ Jurnalis Warga



0 Komentar