![]() |
| Dibawah atap terpal tak sanggup memadamkan mimpi. Suasana kelas darurat UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, tempat semangat belajar terus menyala di tengah keterbatasan. |
Ratapan Seorang Guru
Karya: Irnawati, S.Pd
(Guru UPTD SD Negeri 5 Peusangan
Siblah Krueng)
Dulu kami mengajar di depan papan
tulis,
sekarang kami mengajar di depan
terpal yang bocor.
Dulu kami memanggil absen di kelas,
sekarang kami memanggil nama di
atas lumpur.
Mereka datang ke tenda ini dengan
kaki kotor,
dengan mata yang masih takut hujan
turun.
Lalu mereka bertanya kepada kami,
"Bu, Pak, kapan kita bisa
belajar di kelas lagi?"
Apa yang harus saya jawab?
Kami guru, tugas kami hanya
menguatkan.
Tapi, malam-malam saya juga
menangis,
karena tidak bisa memberikan mereka
kursi,
menangis karena tidak bisa memberi
mereka atap yang pasti.
Hari ini Bapak Ibu datang dari
Jakarta,
jauh melewati laut dan darat
hanya untuk mengusap kepala
anak-anak kami,
hanya untuk bilang "Kami tidak
melupakan kalian."
Terima kasih, terima kasih,
karena Bapak Ibu mengingatkan
bahwa menjadi guru bukan hanya
mengajar huruf dan angka,
tapi juga soal bertahan di tengah
banjir,
di tengah tenda, di tengah
keterbatasan.
Bantuan Bapak Ibu bukan hanya buku
dan pensil,
bantuan Bapak Ibu adalah napas baru
buat kami,
agar kami percaya bahwa pendidikan
tidak mati,
walau sekolahnya terkubur lumpur.
Tenda ini sempit, tapi doa kami
luas.
Darurat ini sementara, tapi ilmu
kami akan selamanya.
Doakan semoga tenda ini cepat
berganti jadi kelas.
Doakan agar anak-anak kami tidak
berhenti bercita-cita,
doakan agar kami menjadi guru yang
kuat
sampai bisa mengajar mereka lagi di
bawah atap yang tidak bocor.
Dari kami hari ini,
guru yang mengajar dengan hati di
UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng,
yang atapnya terpal tapi
semangatnya setinggi langit.



0 Komentar