Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget


Ratapan Seorang Guru SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng

 

Dibawah atap terpal tak sanggup memadamkan mimpi. Suasana kelas darurat UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, tempat semangat belajar terus menyala di tengah keterbatasan.

Ratapan Seorang Guru

Karya: Irnawati, S.Pd

(Guru UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng)

 

Dulu kami mengajar di depan papan tulis,

sekarang kami mengajar di depan terpal yang bocor.

Dulu kami memanggil absen di kelas,

sekarang kami memanggil nama di atas lumpur.

Mereka datang ke tenda ini dengan kaki kotor,

dengan mata yang masih takut hujan turun.

Lalu mereka bertanya kepada kami,

"Bu, Pak, kapan kita bisa belajar di kelas lagi?"

Apa yang harus saya jawab?

Kami guru, tugas kami hanya menguatkan.

Tapi, malam-malam saya juga menangis,

karena tidak bisa memberikan mereka kursi,

menangis karena tidak bisa memberi mereka atap yang pasti.

Hari ini Bapak Ibu datang dari Jakarta,

jauh melewati laut dan darat

hanya untuk mengusap kepala anak-anak kami,

hanya untuk bilang "Kami tidak melupakan kalian."

Terima kasih, terima kasih,

karena Bapak Ibu mengingatkan

bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar huruf dan angka,

tapi juga soal bertahan di tengah banjir,

di tengah tenda, di tengah keterbatasan.

Bantuan Bapak Ibu bukan hanya buku dan pensil,

bantuan Bapak Ibu adalah napas baru buat kami,

agar kami percaya bahwa pendidikan tidak mati,

walau sekolahnya terkubur lumpur.

Tenda ini sempit, tapi doa kami luas.

Darurat ini sementara, tapi ilmu kami akan selamanya.

Doakan semoga tenda ini cepat berganti jadi kelas.

Doakan agar anak-anak kami tidak berhenti bercita-cita,

doakan agar kami menjadi guru yang kuat

sampai bisa mengajar mereka lagi di bawah atap yang tidak bocor.

Dari kami hari ini,

guru yang mengajar dengan hati di UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng,

yang atapnya terpal tapi semangatnya setinggi langit.

 


Posting Komentar

0 Komentar