KabarJW — Di atas panggung kayu Dusun
Pasir, Gampong Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka, Bireuen, jemari Muhammad Bin
Ishak (58) sibuk merajut jaringnya yang robek. Nelayan tradisional ini harus
berjuang menafkahi keluarganya di tengah keterbatasan ekonomi dan merawat
anaknya yang mengidap disabilitas Cerebral Palsy (CP).
Selama bertahun-tahun melaut,
Muhammad tidak memiliki perahu sendiri. Ia menumpang perahu orang lain dengan
sistem bagi hasil, di mana setengah hasil tangkapannya harus diserahkan kepada
pemilik kapal.
"Pendapatan saya rata-rata Rp
50 ribu per hari. Bahkan pernah pulang tangan kosong jika angin kencang,"
ujar Muhammad, Senin (14/9/2026).
Penghasilan tersebut habis untuk
membeli kebutuhan mendesak, seperti selusin popok (pampers) anak senilai Rp
18.000 dan BBM perahu Rp 32.000. Untuk bahan dapur harian, ia kerap menunggak
di warung tetangga.
Ujian ekonomi ini berdampak besar
bagi keluarganya. Istrinya, Nurmala Binti Muhammad (46), merawat anak kembar
mereka, Abdurrahman dan Abdurrahim (11), yang mengalami disabilitas berat. Pada
November 2025 lalu, Abdurrahman meninggal dunia setelah mengalami busung lapar
dan hernia bawaan. Kini, perhatian penuh tertuju pada Abdurrahim yang sangat
bergantung pada lantunan Al-Qur'an dari gawai untuk bisa tidur. Namun, gawai
tersebut kini tertahan di tempat servis karena tak ada biaya Rp 200 ribu.
Beban perawatan anak juga berdampak
pada pendidikan anak-anaknya yang lain. Anak sulung mereka, Intan Wahyuni,
hanya tamat SLTP. Sementara anak laki-lakinya, Murdani, memutuskan berhenti
saat kelas dua SMA karena malu sering tertinggal pelajaran akibat harus
membantu menjaga adiknya di rumah sakit.
Di balik himpitan hidup, keluarga
ini rutin menerima bantuan sosial. Pendamping PKH Gampong Kuala Ceurape,
Fitrina, mengonfirmasi bahwa keluarga Muhammad terdaftar aktif menerima dana
PKH tahap Juli–September sebesar Rp 1 juta dan bantuan sembako senilai Rp 600
ribu. Meski status kesejahteraan mereka bergeser dari desil satu ke desil dua
pada sensus Agustus 2026, hak bantuan tetap berjalan.
Pemerintah setempat juga menyatakan
keterbukaannya. Sekretaris Baitul Mal Bireuen, Tgk. Zubir Putra, SE., MM.,
menegaskan pihaknya akan segera menindaklanjuti permohonan bantuan yang sempat
terkendala akses oleh Muhammad.
"Akan kami tindak lanjuti,
berdasarkan KTP orang tuanya," jelas Tgk. Zubir.
Bagi Muhammad, mimpi terbesarnya
adalah memiliki perahu sendiri agar dapat mencari nafkah lebih mandiri tanpa
perlu bergantung pada sistem bagi hasil.
Afrizal/ Jurnalis Warga



0 Komentar