Korban masih di tenda pengungsian, isu disabilitas dan transparansi anggaran menjadi sorotan dalam forum diskusi publik.
![]() |
Yulidar dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bireuen memaparkan kondisi dan tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam situasi bencana di Bireuen. |
KabarJW – Perwakilan masyarakat sipil di
Kabupaten Bireuen menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mengurai
Akar Bencana: Peran Negara, Kebijakan, dan Partisipasi Publik di Kabupaten
Bireuen” pada Sabtu (28/2/2026). Kegiatan ini difasilitasi oleh LSM Gerakan
Anti Korupsi (GeRAK) Aceh melalui Program Demokrasi Resiliensi (DemRes).
FGD tersebut menghimpun pengalaman
korban banjir, kelompok rentan, akademisi, jurnalis, dan elemen masyarakat
sipil guna merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada DPRK
Kabupaten Bireuen dan Pemerintah Kabupaten Bireuen.
Program Officer DemRes Kabupaten
Bireuen, Murni M. Nasir dari GeRAK Aceh, menyampaikan bahwa banjir yang
berulang di Bireuen tidak dapat dilihat semata sebagai peristiwa alam.
“Banjir yang terjadi harus dibaca
sebagai persoalan tata kelola. Ada problem struktural dalam pengawasan tata
ruang, izin lingkungan, hingga mitigasi berbasis risiko yang belum berjalan
maksimal,” ujar Murni.
Ia menambahkan, FGD ini bertujuan
memastikan suara korban dan kelompok rentan menjadi bagian dari perumusan
kebijakan daerah.
“Kita ingin rekomendasi yang lahir
dari forum ini benar-benar didengar dan ditindaklanjuti oleh DPRK dan
pemerintah kabupaten,” katanya.
Sejumlah peserta juga menyampaikan
kritik terhadap penanganan bencana yang dinilai belum optimal. Furqan, warga
Kuala Ceurape, menyebut respons awal pemerintah belum maksimal.
“Penanganannya belum maksimal. Di
hari-hari awal, masyarakat masih banyak yang bertahan sendiri tanpa kepastian
bantuan,” ujarnya.
Sementara itu, Fauzan dari Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) menyoroti kondisi pengungsian yang masih
memprihatinkan.
“Sampai sekarang masih banyak
korban banjir yang tinggal di tenda pengungsian. Ini menunjukkan proses
rehabilitasi dan rekonstruksi belum berjalan seperti yang diharapkan,” kata
Fauzan.
Isu disabilitas juga menjadi
perhatian dalam diskusi. Yulidar dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia
(HWDI) Bireuen, menilai pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas dalam situasi bencana
belum maksimal.
“Pendataan disabilitas belum akurat
dan fasilitas pengungsian belum aksesibel. Kebutuhan khusus penyandang
disabilitas sering kali terabaikan,” ungkap Yulidar.
[Muhammad Akmal/ Jurnalis Warga]



0 Komentar