![]() |
| Sekretaris Baitul Mal Bireuen, Tgk. Zubir Putra, S.E., M.M., menegaskan akan segera menindaklanjuti dan memverifikasi usulan bantuan untuk keluarga Muhammad. |
KabarJW — Pemerintah Kabupaten Bireuen
melalui Baitul Mal dan Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) memberikan
kejelasan terkait status bantuan sosial bagi keluarga Muhammad Bin Ishak (58),
nelayan asal Gampong Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka. Keluarga yang merawat
anak penyandang disabilitas ini dipastikan tetap masuk dalam skema penerima
bantuan pemerintah.
Sebelumnya, Muhammad mengaku belum
berhasil mendapatkan bantuan modal atau perahu dari Baitul Mal Bireuen karena
keterbatasan pengetahuan dan akses birokrasi.
"Saya warga miskin, tidak tahu
bagaimana mengurus bantuan ke Baitul Mal agar terbantu, tidak tahu pejabat mana
saya jumpai, apalagi cara online," tutur Muhammad.
Sekretaris Baitul Mal Bireuen, Tgk.
Zubir Putra, S.E., M.M., memberikan keterangan di Bireuen, Selasa (15/9/2026).
Menanggapi kendala tersebut, ia menyampaikan komitmennya untuk langsung
memproses verifikasi lapangan demi memastikan keluarga tersebut mendapatkan
penanganan yang tepat.
"Akan kami tindak lanjuti,
berdasarkan KTP orang tuanya," tegas Tgk. Zubir melalui pesan singkat.
Sementara itu, Pendamping PKH
Gampong Kuala Ceurape, Fitrina, merinci bahwa penyaluran bantuan reguler untuk
keluarga Muhammad berjalan lancar. Pada periode Juli–September 2026, keluarga
ini telah menerima haknya berupa dana PKH sebesar Rp 1 juta serta bantuan
sembako senilai Rp 600 ribu.
Data Pemutakhiran Sensus Ekonomi
Agustus 2026 mencatat posisi keluarga Muhammad berada di desil dua (sebelumnya
desil satu). Namun, penyesuaian ini tidak menghentikan hak bantuan sosial
harian mereka.
Fitrina juga mengimbau pihak
keluarga untuk segera merapikan dokumen kependudukan agar pencairan bantuan
lanjutan tidak menemui kendala birokrasi.
"Kami menyarankan agar status
kependudukan dan data keluarga segera diperbarui, termasuk membuat akta
kematian untuk almarhum Abdurrahman agar dokumen dan pencairan bantuan ke
depannya lebih tertib administrasi serta mudah dipertanggungjawabkan,"
jelas Fitrina.
Keluarga Muhammad memang berada
dalam kondisi rentan. Dengan penghasilan melaut rata-rata Rp 50 ribu per hari
dari perahu pinjaman, sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan popok dan
BBM perahu. Kehadiran kejelasan administrasi dan tindak lanjut dari Baitul Mal
diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan, termasuk impian Muhammad untuk
memiliki perahu tangkap sendiri.
Afrizal/ Jurnalis Warga



0 Komentar