SENTUHAN KEMANUSIAAN LEWAT INOVASI. Karmadi, perajin kayu di Bireuen,
sedang mengerjakan pesanan kusen di bengkelnya. Di tengah tuntutan ekonomi, ia
tetap mengedepankan kepedulian sosial dengan menyedekahkan daun jendela secara
gratis bagi para janda yang membutuhkan. (Foto: Ilustrasi AI oleh KabarJW) |
KABARJW— Di balik pembangunan dan
rehabilitasi rumah layak huni bagi warga miskin di Kabupaten Bireuen, tersimpan
kisah kedermawanan dari seorang perajin kayu lokal. Adalah Karmadi, pemilik
usaha Abuwa Prabot yang berlokasi di Jalan Medan–Banda Aceh, kawasan
Titi Rumbia, Kecamatan Kota Juang, Bireuen.
Pria kelahiran Gampong Kuala
Ceurape, Kecamatan Jangka ini tidak sekadar menjalankan roda usahanya mencari
keuntungan. Ia menyelipkan aksi sosial di setiap lembar papan dan kayu yang
dirakitnya.
Karmadi menceritakan, mayoritas
penerima bantuan rumah rehab memesan kebutuhan kusen melalui Toko Sinar
Kifarah, meski sebagian warga ada pula yang datang memesan langsung ke tempat
usahanya. Seluruh material yang digunakannya disesuaikan dengan Rencana Anggaran
Biaya (RAB) serta standar kualitas yang ditetapkan.
"Saya menerima pesanan kusen
sesuai harga di RAB. Setelah barang selesai dibuat, langsung diantar ke lokasi.
Saya melaporkan tagihan ke toko, tetapi sebelumnya saya laporkan ke Pak Keuchik
Nasrul terlebih dahulu," kata Karmadi saat ditemui di bengkel kayunya,
Rabu (23/9/2026).
Dari sekian banyak pemesan, ada
perlakuan khusus yang disiapkan Karmadi untuk kelompok rentan, terutama janda
cerai mati. Bagi mereka, Karmadi kerap memberikan bonus cuma-cuma berupa daun
jendela.
Langkah ini ia lakukan agar alokasi
dana bantuan yang dimiliki warga penerima manfaat bisa dihemat dan dialihkan
untuk kebutuhan mendasar lainnya.
"Khusus janda cerai mati,
biasanya saya sedekahkan daun jendela. Harapan saya, sisa dana penerima bantuan
bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja lainnya yang tidak kalah
penting," tutur Karmadi.
Tak berhenti di situ, Karmadi juga
membebaskan biaya pengiriman barang ke rumah para pemesan. Kehadiran becak
motor pengangkut barang miliknya dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengantar
pesanan langsung hingga ke depan pintu rumah warga tanpa pungutan sepeser pun.
Mengenai mekanisme pembayaran
material, Karmadi mengaku pencairan tahap pertama hampir rampung seluruhnya.
Meski masih menyisakan beberapa lembar bon tagihan karena pemilik toko mitra
sempat berada di luar daerah, ia tetap tenang dan menaruh kepercayaan penuh.
"Semua barang milik saya
sebagian besar sudah dibayar oleh pihak toko, tinggal tersisa beberapa bon lagi
karena beberapa hari lalu tokonya sedang ada urusan di Medan," jelasnya.
Sistem penganggaran yang transparan
menurutnya menjadi kunci kelancaran kerja sama dalam program bantuan sosial
tersebut.
"Saya yakin pembayaran akan
tuntas, sebab semua pesanan biasanya sudah dihitung harganya sejak awal dan
disesuaikan kebutuhannya oleh petugas terkait. Jadi kecil kemungkinan
anggarannya tidak cukup," pungkas Karmadi.
Lewat usahanya, Karmadi membuktikan
bahwa keterlibatan perajin lokal dalam program pemerintah bukan hanya soal
transaksi bisnis, melainkan juga tentang merawat kepedulian sosial bagi sesama
di tanah kelahiran.
Afrizal/ Jurnalis Warga


0 Komentar