Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget


Ratap Kami Anak SD 5 Kecamatan Peusangan Siblah Krueng di Tenda Darurat

 

M. Yandra Dirgantara, siswa UPTD SDN 5 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, saat membacakan puisi di tenda belajar darurat.


Ratap Kami Anak SD 5 Kecamatan Peusangan Siblah Krueng di Tenda Darurat

Oleh: M. Yandra Dirgantara (Siswa UPTD SD Negeri 5 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen)

 

Pasca-banjir bandang Aceh,

sekolah kami SD 5 Peusangan Siblah Krueng

dulu ada bendera, ada halaman tempat kami lari,

sekarang hanya tersisa lumpur dan tangis.

Air datang malam itu dari Krueng Peusangan,

menghanyutkan meja, buku, dan mimpi kami.

Rumah hanyut, sepatu hanyut, tapi kami masih di sini.

Ini kelas kami, tenda terpal,

atapnya meneteskan air, lantainya tanah basah.

Kami berdesak-desakan, satu tenda enam kelas belajar.

"Bu, kapan kita pulang ke sekolah?" tanya adik kelas 1 yang kepanasan.

Ibu guru diam, matanya berkaca,

karena ibu juga tidak tahu harus jawab apa.

Ya Allah, banjir boleh merebut dinding sekolah kami,

tapi jangan biarkan merenggut semangat kami.

Kami anak Peusangan Siblah Krueng,

di sini dingin kalau malam, basah saat hujan,

di sini panas saat siang, tapi hati kami hangat.

Karena hari ini Bapak dan Ibu datang dari Jakarta

membawa harapan dan semangat agar kami tetap kuat.

Kami anak Aceh, kami tidak manja.

Kami tetap belajar, karena kami percaya,

suatu hari nanti sekolah kami akan berdiri lagi.

Untuk Aceh yang terluka, kami bangkit,

lewat buku, lewat doa, lewat belajar di tenda ini.

Terima kasih Tim Relawan Taman Iskandar Muda,

terima kasih karena sudah jadi rumah untuk kami,

saat sekolah belum bisa jadi rumah lagi.

 

Catatan: Dibacakan saat rombongan relawan dari Jakarta datang membawa bantuan ke lokasi sekolah terdampak banjir, pada 15 September 2026. Puisi tersebut menggambarkan kondisi SD N 5 Peusangan Siblah Krueng saat  belajar di tenda terpal berlantai tanah basah, satu tenda untuk enam kelas.

 


Posting Komentar

0 Komentar