SMPIT Azkiya Bireuen Gelar Tasyakur Bintang Al Qur’an Angkatan ke XII

 


SMPIT Azkiya Bireuen menggelar Tasyakur Bintang Al Qur’an angkatan ke XII. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Setdakab Bireuen, yang turut dihadiri oleh Pengurus Yayasan Ar Risalah Aceh, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Bireuen, dan orang tua siswa. Sabtu. (26/06/2021).

Kepala Sekolah SMPIT Azkiya Bireuen, Ratna Chairani Ulfa, dalam kata sambutannya menyebutkan jumlah siswa-siswi yang mengikuti Tasyakur Bintang Al Qur’an dengan tema “Menggapai Masa Depan Gemilang” sebanyak 92 siswa terdiri dari 51 siswa perempuan dan 41 siswa laki-laki.

“Alhamdulillah, ditengah pandemi yang membatasi ruang gerak, kita mampu melaksanakan tasyakur Al qur’an angkatan yang ke XII. Dan hari ini jumlah anak yang akan diwisuda melebihi dari jumlah tahun-tahun sebelumnya yakni sebanyak 92 siswa-siswi,” sebutnya.

Lebih lanjut, salah satu Kepala Sekolah SMP yang lulus dalam Program Sekolah Penggerak yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan RI ini merincikan, sebanyak 32 siswa yang mampu menghafal 1 juz dalam tempo 6 bulan, 33 siswa 2 juz, 18 siswa 3 juz, 4 siswa 4 juz.

“Sebanyak 2 siswa mampu menghafal 5 juz, 1 siswa 6 juz, 1 siswa 7 juz, dan 1 orang siswa 10 juz. Dan alhamdulillah prestasi anak-anak kita calon pejuang bangsa yang islami ini tak lepas dari kerjasama para guru di sekolah dengan para orang tua semua,” sambungnya.

Sementara ini, Pembina Yayasan Ar Risalah Aceh, Ustad Syafie M Isa, dalam kata sambutannya mengatakan sangat bangga dengan prestasi yang diraih oleh para siswa-siswi di SMPIT Azkiya Bireuen dan mengucapkan terimakasih kepada para guru.

“Yayasan Ar Risalah Aceh sebagai yayasan yang menaungi SMPIT Azkiya Bireuen berharap pada wisuda tahun depan akan ada siswa yang mampu menghafal 30 juz. Insya Allah, nantinya yayasan akan memberikan satu tiket umroh bagi yang mampu menghafal 30 juz,” sambungnya.

Menurut Ustad Syafie M Isa, SMPIT Azkiya Bireuen para siswanya tidak hanya didampingi untuk hafalan Al qur’an, tapi juga diajarkan kemampuan leadership, manajerial dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang kekinian yang semakin maju.

“Tahun depan, Insya Allah kita di Yayasan Ar Risalah Aceh akan mengupayakan menerima siswa untuk tingkat SMA meskipun kita masih sangat terbatas dari sisi fasilitas, namun dengan keterbatasan ini kita tetap berupaya melahirkan generasi-generasi yang qur’ani,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Bireuen, Zamzami dalam pembukaannya mengucapkan selamat dan sukses kepada siswa-siswa yang mengikuti tasyakur bintang Al qur’an angkatan ke XII tahun 2020 – 2021 di SMPIT Azkiya Bireuen.

Menurutnya, apa yang telah diraih oleh siswa-siswa ini tak lepas dari kerjasama semua pihak, guru dan para orang tua  siswa terutama. “Di sekolah siswa-siswa setor hafalannya kepada guru, sementara di rumah orang tua-lah yang mendengar ulangan hafalan siswa,” katanya.

Lebih lanjut, Ia menyampaikan bahwa di Bireuen sudah mulai diterapkan kebijakan agar ada upaya-upaya untuk melahirkan para hafizh, paling minimal satu semester para siswa mampu menghafal 1 juz Al qur’an.

“Saat ini kita telah berupaya mendorong pemerintah agar memperhatikan honor guru hafizh, dan ini menjadi hal yang penting karena melalui guru-guru hafizh inilah akan lahir generasi-generasi yang mampu menghafal Al qur’an,” pungkasnya.

Sebagai informasi, tasyakur bintang Al qur’an ini diiringi dengan paduan suara dari Gema Azkiya Voice, pembaca surah dan doa oleh siswa. Disamping itu, penyelenggaraan kegiatan ini tetap mematuhi protokol kesehatan dimana setiap peserta dan para undangan diwajibkan menggunakan masker.

Narahubung : Ratna Chairani Ulfa (Kepala SMPIT Azkiya Bireuen) : 0822 8120 3859

Penulis : Baihaqi

Related Posts:

Mahasiswa Universitas Almuslim Jadi Finalis NUDC Tingkat Nasional

 

Dua mahasiswa Universitas Almuslim dinyatakan lolos menjadi finalis National University Debating Championship (NUDC) tingkat nasional pada 26 Juni 2021 kemarin, setelah sebelumnya lolos seleksi di tingkat Universitas, kemudian lolos pada LLDIKTI wilayah XIII yang telah terlaksana pada 21 Juni lalu.

Nafsul Muthmainnah mahasiswa prodi B.inggris, dan Azzura Mayasyi mahasiswa prodi Hubungan Internasional adalah delegasi dari Universitas Almuslim yang berhasil menjadi finalis NUDC tingkat nasional. Universitas Almuslim adalah salah satu dari 112 team yang lolos pada babak penyeleksian ini, bersaing dengan 380 team dari seluruh Universitas di Indonesia

Kompetisi ini dilaksanakan di kampus masing-masing peserta NUDC secara daring, dan untuk tingkat nasional akan dilaksanakan pada 24-30 Agustus mendatang, kemudian akan dilanjutkan dengan kompetisi tingkat Internasional.

NUDC adalah lomba debat untuk mahasiswa tingkat nasional menggunakan Bahasa Inggris. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Azzura, wanita cantik kelahiran 1999 ini mengatakan, "Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah untuk mengimprove capability saya, kemampuan yang saya asah di sini sebagai persiapan saya untuk menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya atau dunia kerja nanti. Selain itu saya juga ingin mengharumkan Universitas Almuslim dalam dunia debat."

"Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan, mulai dari critical thinking, public speaking, berpikir secara sistematis, dan update dengan perkembangan dunia." tandas ia melalui media whatsapp.

Nafsul dan Azzura mengaku sangat senang, karena setiap tahunnya Umuslim bisa lolos ke tingkat nasional, baik debat Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia.


Penulis : Rahman Effendi

Related Posts:

PETUGAS REGISTRASI GAMPONG, ANTARA ADA DAN TIADA

 


Komunitas Jurnalis Warga (JW) Kabupaten Bireuen melakukan kunjungan ke gampong Blang Guron, melakukan FGD “Duek Pakat Gampong”. Kegiatan bertujuan menghimpun informasi dari warga dan aparatur, terkait keluhan di sektor kesehatan, pendidikan dan adminduk. Senin. (21/6/2021).

Pada pertemuan tersebut mereka mengeluhkan tentang keberadaan Petugas Registrasi Gampong (PRG), yang keberadaannya dianggap seolah tidak banyak memberikan solusi pelayanan adminduk di gampong. Pasalnya ketika PRG mengurus kebutuhan warga ke Disdukcapil Bireuen, proses penyelesaiannya sangat lama. Bukan karena PRG tidak bekerja, tetapi pelayanan Disdukcapil yang diduga sangat lama.

Khaliluddin salah satu warga merasa kesal dengan pelayanan di Disducapil, karena tidak ada kepastian dan kejelasan waktu kesiapan dokumen dalam pelayanan adminduk.

"saya merasa kesal kalau kesana (Red- Disdukcapil), waktu pengurusannya tidak jelas kapan siap. Bahkan kadang butuh waktu berbulan-bulan untuk mengurus KTP/KK. Saya tau bukan dokumen saya saja yang diurus disana, tapi kenapa jika kita kasih uang ke oknum disana dokumennya cepat siap?”, tanya warga kesal.

Hidayatus Siddiq, S. Pd selaku keuchik Blang Guron ikut membenarkan keluhan warga, bahwa selama ini pelayanan dokumen catatan sipil warga terkesan lamban. Sehingga warga kebanyakan mengurus sendiri ke Dinas, tanpa menggunakan jasa PRG di gampong.

“kalau mereka datang sendiri, dokumen mereka cepat siap. Sedangkan jika PRG membutuhkan waktu lumayan lama, tapi juga tergantung dokumen yang diurus. Selain itu PRG mengumpulkan terlebih dulu beberapa dokumen warga, baru dibawa ke Capil.” Ujarnya.

Dirinya juga menambahkan informasi dari warga, jika warga langsung datang sendiri ke Capil dan membawa dokumen sendiri, dijamin cepat siap. Karena mereka memberikan “uang pelicin” kepada oknum petugas Capil, sehingga dokumen mereka cepat siap.

Sehingga warga dan aparatur mempertanyakan. Untuk apa dana desa membentuk PRG, jika pelayanan adminduk masih lamban dan masih ada oknum petugas Capil yang “mempermudah” warga mengurus dokumen indentitas hukum?


Penulis : Rahman Effendi

Related Posts:

Warga Keluhkan Bidan Desa Blang Guron Sering Tidak Ada Ditempat

 


Warga keluhkan Bidan Desa (Bides) sering tidak ada di gampong, padahal  gampong Blang Guron memiliki Polindes yang bisa ditempati. Mereka sangat berharap jika Bides menetap di desa untuk melayani kesehatan warga.

Salamah salah satu warga menyampaikan jika ingin berobat harus ke gampong Cot Jabet atau Cot Teube, bahkan ke Puskesmas. Sehingga Polindes yang ada di gampong tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Keuchik gampong setempat, Hidayatus Siddiq, S. Pd, bahwa dirinya sudah pernah beberapa kali menyampaikan keluhan warga kepada Kepala Puskesmas Gandapura. Namun sampai saat ini belum ada solusi.

“saya sudah jumpai Kapus Gandapura, beliau menyampaikan tidak ada tenaga kesehatan yang bisa ditempatkan di desa. Bides sekarang tidak hanya bertugas ditempat kami, tapi juga gampong Geurugok”.

Hidayatus Siddiq berharap Dinas Kesehatan kabupaten Bireuen bisa memberikan solusi terhadap persoalan ini, karena pelayanan dasar kesehatan masyarakat sangat penting. Karena seharusya pelayanan yang diberikan yaitu dekat, mudah dan murah. Bukan malah dipersulit.

 

Penulis : Rahman Effendi

Related Posts:

Keluhan Layanan Dasar Warga Gampong Kuala Ceurape, Tersampaikan di FGD “Duek Pakat Gampong”

 

Komunitas Jurnalis Warga (JW) Bireuen melakukan diskusi bersama masyarakat Gampong Kuala Ceurape, Kec. KutaBlang, Kab. Bireuen. Sabtu (19/06/2021).

Diskusi tersebut dilakukan guna mendapatkan informasi tentang keluhan warga di gampong tersebut. FGD ini membahas tiga sektor utama layanan dasar yaitu tentang pendidikan, kesehatan dan adminduk.

Ibrahim salah satu warga mengatakan bahwa selama ini menilai kurangya keterlibatan masyarakat dalam pembangunan gampong, dimulai dengan perencanaan. Sehingga seolah masalah yang terjadi semakin berlarut-larut dan tidak pernah menemukan titik temu.

 “kami jarang diajak diskusi, jadi kami ya ikuti alur yang terjadi.” Ujarnya singkat.

Salah satu masalah yang timbul adalah minimnya alokasi dana desa yang diberikan untuk Posyandu, sehingga tidak bisa mengakomodir kebutuhan warga.

"kebutuhan posyandu tidak cukup, dana yang diberikan untuk posyandu lansia dengan jumlah Rp 700.000/bulan dan untuk posyandu balita Rp 1.200.000/ bulan, itupun tidak cukup untuk membeli Pemberian Makanan Tambahan (PMT). " Ujar kader posyandu.

Selain itu masalah yang timbul adalah keluhan wali murid, yang harus harus membayar biaya iuran anak mereka sebesar Rp 15.000/bulan. Sedangkan PAUD tersebut dibangun menggunakan dana desa, tapi biaya yang dialokasikan selanjutnya hanya cukup membayar insentif guru honor.

Tentang adminduk juga mengalami banyak kendala. Gampong memang sudah membentuk Petugas Registrasi Gampong (PRG), tapi belum maksimal. Termasuk masyarakat yang tidak memiliki kesadaran untuk mengurus akta kematian. Administrasi gampong juga masih belum tercatat dengan baik, sehingga masyarakat menilai orang yang masuk ke gampong mereka begitu mudah keluar dan masuk untuk menetap.

Begitu pula halnya dengan kondisi sosial juga mulai tidak saling memperdulikan. Misalnya ada warga kurang mampu yang sakit, kepekaan untuk saling membantu sudah sangat kurang.


Karnita sebagai warga mengucapkan terima kasih kepada komunitas JW Bireuen, telah datang ke gampong Kuala Ceurape. Semoga apa yang disampaikan mereka, menjadi satu perbaikan kedepan.

“niat kita bukan ingin mencari kesalahan, tapi agar bisa mencari solusi bersama untuk memperbaiki gampong Kuala Ceurape menjadi lebih baik. Ucapnya dengan semangat.

 

Penulis : Almatiana dan Fakhrurrazi

Related Posts:

Disabilitas Cot Geulumpang Baroh, Butuh Program Khusus dalam Pengembangan Ekonomi


Nurdin (50) salah satu disabilitas gampong Cot Geulumpang Baroh, Kecamatan Jeunib Kabupaten Bireuen minta pemerintah alokasikan anggaran untuk program khusus pengembangan ekonomi.  Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan FGD “Duek Pakat Gampong”. Kamis. (17/06/2021) di Meunasah setempat.

"Saya berharap pemerintah ada program khusus untuk kami dalam hal pengembangan ekonomi. Kami merasa sangat kesulitan dalam mencari rezeki karena tidak bisa bekerja seperti orang biasa lainnya," ungkap Nurdin.

Nurdin mengaku bahwa seluruh anggota keluarganya memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Siang dan malam tidak lagi menjadi perbedaan bagi mereka. Hanya kegelapan yang selalu dirasakan oleh Nurdin dan empat anggota keluarga lainnya. Nurdin tidak mengetahui alasan khusus dirinya dan keluarganya menjadi tunanetra. Seingatnya, saat berusia  30 tahun penyakit tersebut menyerang penglihatan mereka dan tidak mampu melihat lagi.

"Saya tidak tahu kenapa, semua anggota keluarga kami saat umur 30 tahun tidak bisa melihat lagi. Hal ini menjadi keterbatasan bagi kami dalam menjalani kehidupan, makanya kami berharap ada perhatian khusus baik pemerintah gampong maupun kabupaten untuk kami yang lemah ini," tambahnya kepada jurnalis warga.


Penulis : Syibran Malasi


Related Posts:

Guru SDN 13 Juli : Kami Gunakan Kuota Internet Pribadi untuk Mengajar

 

Guru dituntut mampu mengajarkan anak didik dengan cara kreatif, dan inovatif. Konon lagi dengan penggunaan media teknologi, maka guru harus berupaya melakukan yang terbaik. Namun dalam prosesnya tentu mengalami berbagai kendala, baik jumlah ketersediaan komputer atau laptop di sekolah, maupun kuota internet yang digunakan.

Hal tersebut disampaikan pada FGD “Duek Pakat” yang difasilitasi oleh komunitas Jurnalis Warga Bireuen. Kamis. 17/06/2021.

Zahara selaku wakil kepala sekolah yang juga sebagai guru di SDN 13 Juli, mengaku paling sering menggunakan kuota internet pribadi. Karena tidak dibiayai oleh pihak sekolah. Namun karena keinginannya agar membuat situasi belajar lebih menarik, maka dirinya melakukan itu dengan senang hati.

“kami gunakan kuota internet pribadi untuk mengajar, Alhamdulillah saya melakukannya dengan senang hati. Tapi bagaimana dengan guru lain, apalagi guru honorer yang insentif mereka tidak seberapa. Guru honor hanya 200-300 ribu per bulan, jangankan untuk kuota internet. Untuk keperluanya sendiri saja tidak cukup”. Ujarnya dalam forum. Dirinya juga menambahkan jika sekolah memang memiliki jaringan Wi-Fi, tapi jaringannya sangat lambat.

Zahara juga menyampaikan jika SDN 13 Juli memiliki empat laptop dan 15 tablet. Pihak sekolah berharap ke depan, pemerintah lebih memfokuskan pengadaannya lebih banyak. Apalagi untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), dengan jumlah 120 siswa tentu tidak memadai.


Penulis : Muhammad Dian dan Nurulyana

Related Posts:

Munzir, Nyatakan Siap Perbaiki Layanan Gampong Buket Mulia Menjadi Lebih Baik

 

Munzir yang baru beberapa bulan lalu mengemban amanah sebagai keuchik di Gampong Buket Mulia, menyatakan kesiapannya untuk memperbaiki layanan gampong menjadi lebih baik. Hal tersebut disampaikan pada kegiatan FGD “Duek Pakat Gampong” yang difasilitasi oleh Komunitas Jurnalis Warga (JW) Bireuen. Kamis. (17/06/2021).

Dirinya mengatakan bahwa dengan kegiatan tersebut, dapat mengetahui keluhan warganya. Sehingga kedepan keluhan mereka bisa dibahas dalam musrenbang gampong.

“saya butuh pihak yang memfasilitasi kegiatan seperti ini, sehingga kami bisa belajar banyak hal. Termasuk bagaiaman pengelolaan dana desa yang baik, khususnya mampu mengakomodir kebutuhan warga,” ujar Munzir. Dirinya juga menambahkan jika perubahan itu tidak akan terjadi jika dilakukan sendiri, tapi perlu kekompakan aparatur dan patisipasi warga.

Pada pertemuan tersebut beberapa perwakilan warga dan aparatur yang diundang, baru mengetahui tentang pentingnya keberadaan Petugas Registrasi Gampong (PRG), guna membantu warga dalam pengurusan dokumen ke Disdukcapil. Sehingga lebih mempermudah warga, konon lagi jarak gampong mereka dengan pusat kabupaten sekitar 28 km.

Fathiah salah satu warga sebelumnya tidak pernah mengetahui jika pemerintah, mengistruksikan adanya PRG di gampong. Sehingga bisa membantu pelayanan kepengerusan identitas kependudukan warga.

“saya baru tau tentang PRG sekarang, itu sangat membantu kami. Karena selama ini kalau mau ke kantor Disdukcapil sangat jauh, apalagi tidak siap sehari. Kami harus pulang pergi, uang kami pun-pasan,” ujar Fathiah yang selama ini menjadi guru ngaji di gampongnya.

Dahlan sebagai Kadus ikut membenarkan hal tersebut, dan selanjutnya bersepakat dengan aparatur gampong lainnya akan dibahas dalam musyarawah desa.

Selain itu juga ada beberapa persoalan terkait isu pendidikan dan kesehatan, dan mereka juga bersepakat untuk menyelesaikan dalam forum warga di level gampong.

 


Penulis : Muhammad Dian

 

 

Related Posts:

Kenalkan IT Pada Siswa, Dua Sekawan ini Jadi Relawan di SDN 13 Juli

 

Nurulyana Daba dan Muhammad Dian mengunjungi SD Negeri 13 Juli untuk memperkenalkan Teknologi Informasi (TI), khususnya Laptop kepada siswi yang ada disekolah tersebut.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan kepekaan dua sekawan tersebut untuk merespon keadaan sekolah dan siswa yang sangat minim mengetahui tentang TI.

Tak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi adalah salah satu hal yang akan selalu ada dan berkembang dikehidupan manusia.

Teknologi informasi dan komunikasi ini memiliki banyak sekali peranan dan dampaknya dalam berbagai bidang. Siap tidak siap siswa diminta untuk mengerti mengenai teknologi informasi apalagi didukung dengan momen belajar daring (dalam jaringan) maka kecakapan teknologi informasi harus dikuasai oleh siswa.

"sangat bagus antusias dan keikhlasan Dian dan Nurul untuk mengajari siswa kami untuk mengenal teknologi khususnya laptop. Karena siswa-siswi disini memang masih sangat minim informasi mengenai teknologi. Mohon diajarkan dengan sebaiknya. Anak-anak ini juga belum pernah pegang laptop sebelumnya" ujar Juairiah selaku kepala sekolah SD Negeri 13 Juli.

Nurulyana yang kerap disapa Dekyun mengatakan "tujuan dari program pengenalan IT (laptop) ini kepada siswa adalah untuk memberi kesempatan siswa mempelajari langsung tentang laptop dan Microsoft Office Word, yang mana ketika siswa sudah menguasai laptop maka akan memudahkan siswa untuk mendapatkan informasi yang lebih luas".

Pada kesempatan tersebut, mereka mengajarkan siswa mengenai pengenalan laptop dan aplikasi yang mendukung proses pembelajaran seperti Microsoft Office Word. Pada kesempatan selanjutnya mereka akan mengajarkan lebih lanjut mengenai teknologi informasi ini kepada siswa-siswi yang lebih banyak. Program ini merupakan program sukarela yang mereka jalankan agar nantinya memudahkan anak-anak melakukan proses pembelajaran.

Penulis : Nurulyana Daba

Related Posts:

Yayasan Ar Risalah dan JSIT Bireuen Selenggarakan Pelatihan Desain Alur Pembelajaran Berbasis ADLX Pada Guru

ket : Pembukaan kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya


“Sekolah Islam Terpadu (SIT) Azkiya Bireuen yang terdiri dari PG-TKIT, SDIT dan SMPIT bertekad kuat menjadi kiblat pendidikan di Aceh. Lebih dari itu, SIT ini menginginkan agar setiap siswanya dapat mengukir berbagai prestasi.”

Demikian kata sambutan yang disampaikan Pembina Yayasan Ar Risalah Aceh, Ustad Syafie M Isa pada Pelatihan Desain Alur Pembelajaran Berbasis ADLX dengan Pendekatan Terpadu tingkat PAUD sampai dengan SMP.

Kegiatan yang menghadirkan 4 narasumber dari Jaringan Sekolah Islam Tepadu (JSIT) Indonesia, yakni Shinta Wati, S.Si, M.Pd, Maya Yunus, M.Ag, Yanti Haryati, S.Psi,M.Pd dan Diana Aprilianty, M.Pd diikuti oleh 60 guru dari sekolah-sekolah di Aceh yang tergabung dalam JSIT diselenggarakan di Kompleks SIT Azkiya Bireuen, Rabu 9 Juni 2021.

Menurut Ustad Syafie, SIT yang tergabung dalam JSIT mengajarkan siswanya bukan saja akademik, tapi juga membentuk karakter siswa termasuk hafalan Al quran agar menjadi siswa-siswinya generasi yang mampu mempertahankan dirinya disegala bidang.

“Kita ketahui bersama, kurikulum yang kita terapkan di SIT adalah perpaduan kurikulum dari Timur Tengah, Eropa, Jepang dan Indonesia, sehingga setiap siswa akan menjadi penerus yang berdaya saing diberbagai kancah,” jelas Ustad Syafie.

Insya Allah kedepan, tambah Ustad Syafie, Yayasan Ar Risalah yang menaungi PG-TK, SDIT, dan SMPIT Azkiya Bireuen akan berupaya menghadirkan SMAIT. “Oleh karena itu, kami sebagai pengurus yayasan sangat mengharapkan dukungan dari JSIT Indonesia untuk mengarahkan agar tujuan ini dapat segera terwujud,” harap Ustad Syafie.

Sementara itu, Ustazah Meutia, S.Pd, ketua panitia pelatihan yang dijumpai terpisah menyebutkan, pelatihan yang mengangkat tema “Menjadi Guru Transformatif untuk Penguatan Karakter Bangsa” diharapkan bisa menjadi pengetahuan baru bagi para guru-guru yang ikut terlibat.

“Pelatihan ini diikuti oleh 60 guru SIT di Aceh yang terdiri dari 30 guru tingkat SD/SMP dan 30 guru tingkat PG/TK. Harapannya, pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas masing-masing guru SIT yang tergabung dalam JSIT,” harap Ustazah Meutia.

Lebih lanjut, Ustazah Meutia yang juga kepala SDIT Azkiya Bireuen menyebutkan, pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan Ar Risalah Aceh yang bekerjasama dengan JSIT wilayah Kabupaten Bireuen.

“Pelatihan ini terselenggara atas inisiatif Yayasan Ar Risalah Aceh dan JSIT wilayah Bireuen yang akan diselenggarakan selama 3 hari di dua tempat terpisah di TKIT Azkiya Bireuen dan kompleks SDIT, SMPIT Azkiya yang terbagi dalam dua sesi, tingkat PG/TK dan SD/SMP,” jelas Ustazah Meutia.

Sebagai informasi, acara pembukaan pelatihan ini juga diisi dengan pembacaan surah dan doa yang dibacakan oleh Ahmad Zaki, siswa SMPIT Azkiya Bireuen. Disamping itu juga diiringan paduan suara yang dinyanyikan oleh Gema Voice Azkiya.

Dalam pembukan ini, hadir juga Ustad Teuku Akmal, ST, Ketua Yayasan Ar Risalah Aceh dan jajarannya, perwakilan pengurus JSIT Wilayah Aceh, pengurus JSIT Wilayah Bireuen serta sejumlah unsur undangan lainnya.

 

Penulis : Baihaqi

Related Posts: