Kisah Akmal, Penyintas TB yang Akhirnya Sembuh


Akmal (17) remaja asal Gampong Seunebok Rawa, kecamatan Peusangan, kabupaten Bireuen akhirnya sembuh dari penyakit Tuberculosis (TB) setelah melakukan pengobatan intensif selama enam bulan.

Awalnya Akmal mengaku sangat kaget ketika tiba-tiba divonis menderita TB, karena tidak percaya dirinya beberapa kali melakukan serangkain tes. Bahkan sampai ke RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh, namun hasilnya tetap sama. Saya dan keluarga akhirnya pasrah, dan menerima hasil tersebut. Selanjutnya selama enam bulan Akmal harus menjalani pengobatan intensif di RS Telaga Bunda Bireuen.

gejala awal saya muntah darah, setelah dilakukan serangkaian tes lab saya dinyatakan mengidap TB. Kami semua terkejut, bahkan ibu saya sampai ikut sakit karena mendengar diagnosa dokter kepada saya,” ujar Akmal, sedari mengenang saat ibunya pun harus ikut dirawat untuk sementara waktu.

Akmal mengulang keterangan dokter saat itu, yaitu kemungkinan besar dirinya tertular dari orang sekitar atau karena merokok. Akmal sendiri mengakui bukan perokok dan tidak ada anggota keluarga atau pun teman-teman yang mempunyai riwayat penyakit tersebut.

Di usia yang sangat muda, Akmal mengaku sempat putus asa dengan penyakit yang dideritanya. Dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, dan tetiba harus menjalani proses pengobatan yang menurut Akmal sangat lama. Dia sempat pesimis jika penyakitnya bisa sembuh.

Tapi karena motivasi dari keluarga dan teman-temannya, yang membuatnya dia harus berjuang melawan penyakitnya. Baginya dunia hanya berhenti sebentar, tapi arah arus jam terus bergerak, maka begitupula semangatnya tidak boleh berhenti, selagi Allah belum berkata CUKUP. Artinya Akmal masih diberikan kesempatan untuk berjuang dan bisa sembuh.

Tuberculosis (TB) adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyakit ini umumnya menyerang paru-paru. Penyakit  TB ini adalah salah satu penyakit yang menular. Tidak menular melalui kontak fisik, namun melalui percikan air liur yang dilepaskan ke udara. Penyakit ini merupakan satu dari 10 penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia

 

Penulis : Nura Sukma (JW)

Related Posts:

SINERGISITAS PERAN PEMERINTAH DALAM PENANGANAN ODGJ

Sumber Foto : https://web.facebook.com/abu.medan/photos

Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) merupakan salah satu dari kesehatan mental atau Jiwa disebabkan oleh beberapa peristiwa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan mental, hal ini bisa saja dipicu oleh peristiwa-peristiwa yang dialami oleh seseorang berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, atau stres berat jangka panjang, dan beberapa faktor lainnya seperti pemakaian narkoba, permainan game online berlebihan dan lain sebagainya.

Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, dan memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri dan bahkan menyakiti orang-orang disekitarnya.

Beberapa jenis gangguan mental yang umum ditemukan, antara lain depresi, gangguan bipolar, kecemasan, Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD), Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD), dan psikosis. Beberapa penyakit mental hanya terjadi pada jenis pengidap tertentu, seperti postpartum depression hanya menyerang ibu setelah melahirkan.

Ada banyak permasalahan terkait penanganan ODGJ yang perlu perhatian semua pihak, agar setiap warga negara mendapatkan haknya dalam pelayanan kesehatan.

Banyak sekali regulasi yang membahas tentang hak dan kewajiban warga Negara dalam menerima pelayanan kesehatan yang maksimal.

Sebagaimana dalam penjelasan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa secara umum disebutkan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin setiap orang dapat hidup sejahtera lahir dan batin serta memperoleh pelayanan kesehatan dengan penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Tujuan pembangunan kesehatan yang hendak dicapai yaitu terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi- tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya kesehatan termasuk Upaya Kesehatan Jiwa dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya Kesehatan Jiwa harus diselenggarakan secara terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (Pasal 1 UU 36/2009). Hal ini menunjukkan kesadaran pemerintah dan semua pihak, untuk concern bahwa tidak ada perbedaan perlakuan dan pelayanan kepada siapapun.

Selain itu juga UU No. 17 Tahun 2007 tentang Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, menegaskan bahwa salah satu yang harus dipenuhi untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing maka pembangunan sumber daya manusia, yang ditandai dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perlu ditingkatkan. Dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang setinggitingginya. Hal ini sejalan dengan Program Indonesia Sehat sebagai salah satu pilar dari Pembangunan Visi dan Misi Presiden yang tertuang dalam program prioritas (Nawacita), pada agenda ke lima, yaitu “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”.

Beranjak dari banyaknya regulasi, namun pengamatan penulis selama ini, semuanya seolah hanya “mimpi indah” yang tidak terealisasi dengan baik. Misalkan pada proses perencanaan pembangunan di pemerintah terkecil, yaitu gampong (desa). Di kabupaten Bireuen, belum ada program yang berpihak pada masyarakat yang khususnya mengalami gangguan kesehatan mental atau jiwa.

Perhatian pemerintah terhadap para pasien ODGJ sebenarnya sangat dibutuhkan, mengingat mereka yang rata-rata merupakan penduduk miskin yang memerlukan perhatian ekstra dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama kebutuhan obat-obatan.

Program khusus terkait penanganan ODGJ harus menjadi prioritas bagi Gampong yang memiliki permasalahan ini, jika permasalahan ini dianggap tidak penting maka tentunya akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari yang dapat merugikan masyarakat dan permasalahan sosial yang buruk.

Selain pemerintah, masyarakat sendiri juga harus dapat merangkul dan juga memberikan rasa nyaman kepada ODGJ, sehingga mereka dapat berprilaku wajar dan bekerja walau kita tahu presentase ODGJ bisa sembuh total relatif rendah.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan pemahaman dalam mengelola dan menangani ODGJ, yang harus dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat. Sehingga setiap manusia bisa hidup saling berdampingan, dan saling peduli dengan sesama tanpa pernah membedakan.  

 

Penulis : Rahmadsyah Harahap (JW)

Related Posts:

DPD PAS Bireuen Gelar Sunatan Massal Di Peusangan

Dewan Perwakilan Daerah (DPD)  Persaudaraan Aceh Seranto (PAS) Kabupaten Bireuen melaksanakan kegiatan Sunatan Massal yang bertempat di Balai baca Desa Kantor Camat Peusangan, Selasa (27/04/21).

Rahmat Asri Sufa, SH, S.Pd.I, M.Pd selaku Ketua DPD PAS Bireuen, menyampaikan bahwa sunatan massal gratis ini akan rutin dilakukan. Karena kegiatan ini masih jarang dilakukan di kabupaten Bireuen. Berharap hal ini bisa membentuk generasi penerus bangsa yang sehat dan bersih.

“kita mengetahui bahwa sunatan atau khitan sebagai sarana sahnya shalat, dari sisi medis sangat bermamfaat bagi kesehatan, dan tentunya mengislamkan seorang hamba secara kaffah”, ujar Rahmat.

Selain itu Sayed Chairul Raziq selaku ketua panitia menjelaskan, pada kegiatan ini melakukan sunat massal kepada 27 anak yang sebelumnya sudah mendaftar. Mereka berasal dari Bireuen dan Aceh Utara.

“semoga kegiatan ini bisa rutin kita lakukan, dan bisa menjadi contoh bagi organisasi-organisasi masyarakat dan sosial lainnya. Tentunya juga perlu dukungan dari semua pihak, sehingga terlaksana sebagaimana yang diharapkan", pinta Sayed.

Sayed yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  (Fisipol) di Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, mengatakan kegiatan ini juga  didukung oleh Camat Peusangan,  Dinkes Bireuen, Kodim 0111/Bireuen, Puskesmas  Peusangan, Puskesmas Cot Iju,  dan Akper Muhammadiyah.


Sumber : Release

Editor : Rahman Efendi

Related Posts:

Diduga Sakit Hati, ODGJ di Peusangan Lukai Sepupunya Dengan Benda Tajam

 

SF merupakan salah satu warga gampong Kapa, kecamatan Peusangan, kabupaten Bireuen. Dirinya  merupakan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ), dan telah melukai sepupunya sendiri, dengan melakukan beberapa sayatan dibagian wajah dan bahu. Selasa (26/4).

Akibat dari sayatan tersebut menimbulkan luka serius, sehingga korban dilarikan ke Puskesmas Kuta Blang dan memerlukan penanganan secepatnya.

Diduga, hal tersebut dilakukan karena SF tidak senang kepada sepupunya, yang kerap mengingatkan agar rutin minum obat, dan tidak membawa lelaki bukan muhrim masuk ke rumah tanpa alasan yang jelas.

Dari keterangan keluarga, bahwa SF, Ibu dari satu orang anak ini telah lama mengalami gangguan kesehatan mental, ditambah dengan faktor ekonomi yang sangat membuatnya depresi dan alusinasi yang berlebihan.

Petugas Kesehatan Puskesmas Peusangan, Vivi Yanti Mala, S. Kep yang bertugas di Puskesmas Peusangan mengatakan saat ini terdata 149 orang ODGJ diwilayah kerjanya.

“kita akan merujuk SF ke Upip RS. dr. Fauziah Bireuen. SF adalah satu pasien dalam pengawasan kami di gampong Kapa. Bahkan SF pernah mengalami tindakan asusila dari orang yang tidak bertanggungjawab,” kata Vivi.

Guna menghindari hal yang tidak inginkan, petugas bahkan telah melakukan KB implant kepada SF. Sehingga sampai saat ini SF menjadi pasien khusus yang diawasi oleh petugas Puskemas Peusangan.


Vivi menambahkan butuh keterlibatan semua pihak, keluarga, masyarakat, pemerintah Gampong dan bahkan lintas sektor guna menangani kasus pasien ODGJ.

“khususnya untuk aparatur gampong seharusnya juga memberikan perhatian khusus, seperti perlengkapan kebersihan untuk mandi dan mencuci. Karena mereka memang tidak memiliki sumber pendapatan, sehingga kebutuhan tersebut tidak bisa terpenuhi,"ujarnya kemudian.

Kepedulian pemerintah dan juga masyarakat terkait permasalahan kesehatan jiwa ini masih sangat kurang, tidak jarang masih kita temukan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) yang berkeliaran di jalan tanpa ada penanganan khusus baik dari pemerintah bahkan diabaikan oleh keluarga.

 

Penulis : Rahmadsyah Harahap (JW)

Related Posts:

Gampong Meunasah Tunong, Ada Warga Miskin Tidak Terdata di DTKS

Banyak warga miskin keluhkan tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah, hal tersebut dikarenakan mereka tidak terdata di Data Terpadu Keluarga Sejahtera (DTKS). Hal serupa juga terjadi di Gampong Meunasah Tunong, kecamatan Peudada, kabupaten Bireuen.

Aris Juanda (24) Kasi Pemerintahan menyampaikan bahwa mereka telah melakukan upaya terbaik untuk warga, dengan melakukan pemutakhiran data dari gampong, dan difasilitasi oleh organisasi pilar sosial seperti Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk disampaikan ke Dinas Sosial.

Aris mengakui bahwa masih ada warga miskin di gampongnya tidak terdata di DTKS, padahal pihak gampong sudah rutin mengirimkan data dua tahun sekali untuk diinput ke aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG).

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011, tentang Penanganan Fakir Miskin, dan Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Menteri Sosial Nomor 57 / HUK / 2017, Tentang Penetapan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin Tahun 2017, Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia memperoleh mandat untuk melakukan verifikasi dan validasi (verivali) data setiap dua tahun sekali.

Aris menejlaskan bahwa SIKS-NG merupakan solusi bagi pengelolaan data kemiskinan yang terpadu, efektif, dan efisien yang tentu saja memberikan kontribusi dalam penurunan angka kemiskinan. Sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

“sebenarnya pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengakhiri kemiskinan dimanapun dan dalam berbagai bentuk, aplikasi SIKS-NG inilah sebagai bentuk mengimplementasikan sistem dan ukuran perlindungan sosial yang tepat bagi seluruh lapisan masyarakat”, urainya

Model SIKS NG ini menjadi sumber data utama bagi DTKS untuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Kartu Sembako atau Bantuan Pangan Non Tunai yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.

Tapi fakta dilapangan masih saja ada kendala, sehingga masyarakat tidak terdata di DTKS. Aris berharap semua pihak bisa mengevaluasi persoalan tersebut, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang tidak mendapat sentuhan dari pemerintah.


Penulis : Muhammad Dian (JW)

Related Posts:

Gampong Paya Ru, Lakukan Perbaikan Layanan Dasar Berbasis Kebutuhan Warga

Meski jauh kata sempurna, aparatur gampong Paya Ru kecamatan Juli, kabupaten Bireuen terus berupaya melakukan pembangunan berbasis kebutuhan Warga. Jumlah penduduk di gampong Paya Ru sekitar 633 orang, yang terdiri dari 171 Kartu Keluarga (KK).

Mayoritas warga mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih, karena umumnya untuk kebutuhan sehari-hari mereka memamfaatkan air di irigasi. Namun tidak semua warga bisa dengan mudah untuk menempuh jarak ke irigasi tersebut, selain itu ada beberapa warga di daerah perbukitan tidak bisa menggali sumur, karena  areanya berbatu.

                                             

Sehingga pada tahun 2014 silam gampong berinisiatif membangun tempat penampungan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Selanjutnya karena tidak semua juga bisa mengakses air tersebut, pada tahun 2019 gampong Paya Ru memamfaatkan dana desa untuk membuat sumur bor kepada masyarakat, kini semua warga sudah bisa mendapatkan air bersih.

Di gampong Paya Ru juga melakukan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) rutin setiap bulannya, yaitu setiap tanggal 14 diadakan Posyandu balita dan ibu hamil, sedangkan tanggal 16 untuk Lansia.

Sedangkan isu pendidikan masih dalam keadaan berbenah. Masih banyak anak putus sekolah, karena diakibatkan faktor ekonomi. Diharapkan ke depan gampong memiliki solusi untuk hal tersebut.


Penulis : Alma Tiana (JW)

Related Posts:

Meriska Bugis, Siswa Berprestasi dari Juli

 


Meriska Bugis, Siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri 13 kecamatan Juli kerap menoreh prestasi di sekolah nya. Buah hati dari Erwin dan Nuraini, yang kerap dikenal sebagai sosok periang ini, memiliki hobi membaca. Sedari kecil, dia memiliki ketertarikan membaca buku apa saja.

Kegemaran tersebut lah yang membawanya selalu mendapatkan prestasi lima besar di kelasnya. Maka tidak heran, gadis mungil kelahiran Gampong paya Cut, 23 oktober 2010 ini kerap kali menyabet juara di banyak perlombaan. Baik tingkat sekolah, kecamatan maupun kabupaten.

Terakhir Meriska menjuarai Olimpiade IPA, yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) pada tahun 2020 silam. Meski juara III, tetapi dirinya sangat bersyukur karena telah membanggakan orang tua dan pihak sekolah.

Nuraini mengakui bahwa putrinya Meriska memiliki semangat belajar yang tinggi, dan tidak pantang menyerah.

“saya sangat bangga dengan Meriska, dia mampu membanggakan orang tuanya dan membawa nama baik sekolah. Semoga Meriska selalu menjadi anak yang rajin dan bisa menoreh prestasi”, harap ibundanya.


Penulis : Fakhrurrazi (JW)

Related Posts:

SDN 13 Juli Butuhkan Tenaga Pendidik Khusus untuk Siswa ABK


Muhammad Andrea (10 Tahun) sedang mengenyam pendidikan kelas V (lima) di Sekolah Dasar (SD) Negeri 13 Kecamatan Juli, kabupaten Bireuen. Dia memiliki semangat yang sama dengan teman sebaya nya, meski dia termasuk ke dalam siswa berkebutuhan khusus yaitu Sindrom Down. Kelainan genetik ini menyebabkan keterlambatan perkembangan dan intelektual. 

Juairiyah selaku Kepala Sekolah SDN 13 Juli menyampaikan bahwa tenaga pendidik di sekolah mereka, selalu memberikan perhatian yang sama kepada Andrea ataupun siswa lainnya. Tanpa pernah membeda-bedakan mereka. Namun Juairiyah mengaku prihatin terhadap masa depan Andrea dan dua teman lainnya yang juga disabilitas, karena seharusnya siswa berkebutuhan khusus seyogyanya harus diajarkan sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental nya.

“semua siswa mendapatkan perlakuan yang sama, kami mendidik mereka dengan cinta. Tapi tentunya setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda, semisal Andrea seharusnya memiliki guru pendamping terlatih. Karena metode pengajarannya tentu akan berbeda, sedangkan pihak sekolah kami belum memiliki hal tersebut”. Ungkapnya.

Juairiyah juga menambahkan seharusnya Andrea ditempatkan di sekolah inklusif, Sekolah Luar Biasa (SLB), atau pendidikan non formal. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Kemendiknas, yaitu peraturan No. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasasan dan/atau bakat istimewa.

Karena melalui peraturan tersebut, penyandang disabilitas bisa bersekolah di sekolah umum yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Selain itu  kurikulum yang diterapkan di sekolah, akan disesuaikan dengan penyandang disabilitas berdasarkan minat dan bakatnya. Bahkan dengan tenaga pengajar terlatih yang akan mendidik dan menangani mereka.

                                        

Namun Juairiyah mengakui jika di sekolah mereka belum sesuai dengan standar, untuk mendidik anak berkebutuhan khusus. Persoalan ini sudah dilaporkan oleh pihak sekolah, kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen. Merespon hal tersebut, pada 20 Februari 2021 pihak Dinas sudah melakukan kunjungan ke sekolah dan melihat langsung keadaan Andrea. Mereka berjanji akan memberikan pelatihan untuk guru SD Negeri 13 Juli, agar memiliki tenaga pengajar terlatih.

Namun dari pihak sekolah memiliki keterbatasan dalam menemukan tenaga pendidik yang tepat untuk dilatih. Sehingga sampai saat ini hal tersebut belum ada solusinya.

Pihak sekolah juga sudah memberikan saran kepada kedua orang tua Andrea, untuk menyekolahkan Andrea di SLB. Namun karena keterbatasan dan jarak yang jauh, pihak keluarga belum menyanggupi hal tersebut.

Andrea memiliki cita-cita sebagai ureung ek u (red- pemanjat kelapa), karena yang diketahui olehnya pekerjaan tersebut umumnya dilakukan oleh masyarakat gampongnya dan bisa mendapatkan uang. Sehingga dengan pekerjaan tersebut, Andrea berharap suatu saat mendapatkan uang dan bisa membahagiakan keluarganya. 


Penulis : Muhammad Dian (JW)


Related Posts:

Layani Bumil dan Balita, Gampong Cot Geulumpang Baroh Rutin Lakukan Posyandu

 

Masyarakat gampong Cot Geulumpang Baroh, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen selalu antusias mengikuti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di gampong mereka. Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap bulannya. Jumat (23/4)

"Posyandu Balita dan ibu hamil hari ini di laksanakan di Polindes. Posyandu dilakukan dengan tujuan agar ibu hamil dan anak-anak di desa tersebut mendapat pelayanan kesehatan yang memadai dan terkendali". Ungkap Yuli Yanzila selaku Ketua Posyandu gampong setempat.

Dalam kegiatan posyandu hari ini, mereka  membagikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu-ibu hamil dan anak-anak balita. Seperti sayuran dan buah-buahan.

Yuli menambahkan karena sedang bulan Ramadhan, maka mereka diberikan PMT yang belum dimasak, agar mereka bisa mengolahnya sendiri.

Posyandu merupakan kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Posyandu merupakan salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa

Posyandu dimulai terutama untuk melayani balita (imunisasi, timbang, dan berat badan) dan orang lanjut usia atau disebut Posyandu Lansia.

                                                 

Aktivitas tersebut tercetus melalui Surat Keputusan Bersama antara Menteri Dalam Negeri RI (Mendagri), Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan dicanangkan pada sekitar tahun 1986.

Posyandu dikembangkan atas prakarsa Presiden Soeharto pada tahun 1984, Posyandu dulu pernah menjadi kebanggaan rakyat. Setiap bulannya, rakyat berbondong-bondong mendatangi Posyandu yang dikelola berbasiskan komunitas. Dalam kegiatan tersebut di hadiri langsung oleh bidan desa setempat yang melayani peserta posyandu dengan senang hati dan penuh suka cita.


Penulis : Syibran Malasi Idris (JW)

Related Posts:

Mencari Keberkahan Ramadhan Dengan Bertadarus

 


Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam, bulan penuh berkah dan penuh keampunan. Ramadhan adalah moment yang ditunggu oleh muslim di seluruh penjuru dunia. Disebut juga bulan suci yang terkandung beribu rahmat dan kemuliaan di dalamnya. Sehingga semua muslim di dunia berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, salah satunya adalah Nuzulul Quran. Allah SWT memilih bulan Ramadan menjadi bulan diturunkannya pertama kali wahyu yaitu Al- Qur’ankepada Nabi Muhammad SAW, pada tanggal 17 Ramadan. Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertamanya tersebut di sebuah gua bernama Gua Hira berupa Al- Qur’an surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

Hal ini dijelaskan dan diceritakan juga di dalam Al- Qur’an, (Q.S. Al-Baqarah ayat 185) sebagai berikut.

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al- Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Di Aceh khususnya di Kabupaten Bireuen sendiri pesantren atau lembaga-lembaga Pendidikan meliburkan santri-santrinya untuk pulang ke gampong masing-masing. Hal itu dimanfaatkan oleh santri di Aceh, setiap gampong di bulan Ramadhan memamfaatkan bulan puasa untuk bertadarus.

Tadarus adalah membaca, mempelajari dan menelaah bersama-sama serta mengaktualisasikan kandungan isi Al- Qur’an. Hal ini merupakan ibadah yang sangat muliah disisi Allah SWT.

Begitupula halnya di Desa Cot Geulumpang Baroh, Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireuen bertadarus Al- Qur’an di Meunasah setempat. M. Sarayulis adalah salah satu santri Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunieb, memanfaatkan waktu libur tersebut untuk bertadarus bersama teman-temannya.

"tadarus tersebut adalah salah satu cara untuk mengasah bacaan kami serta mengimplementasi ilmu yang kami dapatkan selama mengenyam pendidikan khusus agama Islam di Dayah". Ungkap nya.

Biasanya anak-anak tersebut memulai membaca Al- Qur’an usai shalat Sunah Tarawih, serta di disudahi pada pukul 03.30 dini hari WIB. Sehingga setiap malamnya lantunan ayat Suci Al- Qur’an selalu bergema dari meunasah atau masjid di setiap gampong.

Di kesempatan yang terpisah Saiful Bahri sebagai panitia penyelenggara tadarus, menyampaikan anak-anak yang tadarus tersebut akan di nilai dan nantinya ketika sudah diakhir Ramadhan tepatnya di Malam Hari Raya Idul Fitri dan akan diberikan hadiah bagi anak-anak aktif selalu bertadarus.

"pahala mereka selalu mengalir di dunia dan akhirat, tapi kami sebagai manusia juga menyampaikan apresiasi kami kepada mereka. Telah belajar bersama dan menuntut ilmu agama dengan sangat antusias. Hanya Allah sajalah yang mampu membalas amalan mereka dengan cara sempurna", Ucap Saiful.


Penulis : Syibran Malasi Idris (JW)

Related Posts:

Cegah Penyebaran Covid- 19, Gampong Tanjong Raya Dirikan Posko Satgas Aman


Berdasarkan Instruksi Mendagri Nomor 03 Tahun 2021 Tentang Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan pembentukan Posko Penanganan Covid-19 ditingkat Desa dan Kelurahan untuk pengendalian penyebaran Covid-19, Gampong Tanjong Paya Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen, merupakan salah satu Gampong dari 45 Gampong dalam Kecamatan Peusangan yang telah mendirikan Posko pada Sabtu 17 April 2021.

Subarni yang merupakan Keuchik di Gampong Tanjong Paya menyampaikan bahwa Posko Satgas Gampong Aman Covid-19 nantinya akan melaksanakan kegiatan  (PPKM) berskala Mikro.

"pendirian Posko tersebut, sebagai upaya kami dalam rangka mendukung kegiatan pengendalian penyebaran Covid-19 sebagaimana arahan pemerintah, untuk kegiatan ini kita menganggarkan dana sebesar 8% dari APBG", ujar Subarni di sela-sela peresmian Posko Gampong Aman Covid-19.

Dirinya juga menambahkan bahwa akan ada beberapa kegiatan lainnya yang juga kita fokus kepada penanganan Covid-19, serta juga permasalahan kesehatan lainnya.

Sesuai instruksi Mendagri pelaksanaan PPKM Mikro dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria zonasi pengendalian wilayah, hingga ketingkat dusun, mulai zona hijau sampai zona merah dengan strategi pengendalian masing-masing sesuai dengan zona.


Penulis : Rahmadsyah Harahap (JW)

Related Posts:

Gampong Cot Nga dinobatkan sebagai "Desa Bebas Buang Air Besar Sembarangan".

 


Gampong Cot Nga merupakan salah satu gampong di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Gampong yang letaknya tidak jauh dari jalan lintas Nasional ini merupakan salah satu gampong yang memprioritaskan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan informasi dilapangan juga diketahui bahwa tidak ada masyarakat yang mengalami penyakit menular seperti TBC, Stunting, maupun gizi buruk. Bahkan pada Tahun 2018 Gampong Cot Nga dinobatkan sebagai "Desa Bebas Buang Air Besar Sembarangan".

Prestasi tersebut disampaikan oleh Bupati Bireuen H. Saifannur S.Sos, bertepatan pada Hari Kesehatan Nasional. Cot Nga merupakan satu-satunya desa dari 31 desa yang ada di wilayah Puskesmas Cot Ijue, yang mendapatkan prestasi tersebut. Penobatan tersebut salah satu kriterianya adalah semua masyarakat telah memili  toilet yang layak untuk digunakan dan sesuai dengan standar.

Syahrial selaku Keuchik Gampong Cot Nga menyampaikan bahwa Dana Gampong adalah dana yang diperuntukkan untuk masyararakat, sehingga pembangunan maksimal akan selalu kami upayakan. Karena pembangunan gampong tidak hanya selalu fokus dengan pembangunan fisik saja, tapi bagaimana kemudian juga mengakomodir kebutuhan layanan dasar masyarakat.

“kita berharap prestasi tersebut akan selalu bisa diperrtahankan, ini bukan hanya menjadi kewajiban dari aparatur untuk peduli isu kesehatan, tapi diperlukan upaya gerakan bersama untuk saling menjaga”, ungkap.


Penulis : Zahratun Nabila (JW)

Related Posts:

PAS dan IKATRIA Pulangkan Jenazah Warga Asal Bireuen

Jakarta - Persaudaraan Aceh Seranto (PAS) dan Ikatan TNI - POLRI asal Aceh (Ikatria) di Jakarta memulangkan warga Aceh yang meninggal di Jakarta, yaitu Muhammad Rizal Bin M. Isa warga asal Lhok Mane Kecamatan Simpang Mamplam, Kab. Bireuen. Rizal meninggal karena kecelakaan di Kosambi Jakarta Barat. Jumat (9/4/2021)

Jenazah Rizal sempat lima hari di RSU Tangerang karena almarhum tidak ditemukan identitas saat kecelakaan. Namun Fauzi anggota Ikatria mendapatkan kabar ada warga Aceh yang meninggal. Kabar tersebut disampaikan kepada Amriadi (Putra asli Samalanga Bireuen) dan Tarmizi sebagai wakil ketua dan penasehat Ikatria. 

Ikatria berkoordinasi dengan berbagai pihak, namun tidak ada yang merespon. Akhirnya kabar meninggalnya M. Rizal dilaporkan ke Ketua Umum PAS Akhyar Kamil. 

Ketua Umum PAS,  H.  Akhyar Kamil, SH langsung menginstruksi kepada pengurus PAS untuk segera membantu proses pemulangan jenazah almarhum ke kampung halamannya di Simpang Mamplam. 

               

PAS di bawah komando Akhyar Kamil, jenazah almarhum yang di pimpin langsung oleh Ketua DPD PAS Kabupaten Bireuen Rahmat Asri Sufa dan Serka Agussalim, mengurus dan membayar seluruh biaya rumah sakit. 

"setelah semua proses administrasi selesai, kami langsung membawa pulang jenazah dari Jakarta ke pihak keluarga yang ada di Simpang Mamplam, Bireuen. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu proses pemulangan jenazah", ujar Rahmat Asri Sufa.

Dirinya juga menambahkan untuk bisa mengambil beberapa pembelajaran, yaitu meningkatkan kepeduliaan kita jika ada saudara kita yang tertimpa musibah. Dan agar siapapun yang di perantauan untuk selalu membawa identitas diri kemana pun, sehingga bisa mempermudah kita dalam segala aktivitas, dan memproteksi diri jika terjadi hal serupa.


Penulis : Rahmat Asri Sufa (JW)


Related Posts:

Cegah Penularan Covid-19, Camat dan Jajaran Kecamatan Peusangan Di Vaksin

 


Camat Peusangan menjalani vaksinasi untuk pencegahan penularan dan penanganan covid-19 yang dilaksanakan di Balai Desa Kecamatan Peusangan, pada Kamis, 8 April 2021.

Kegiatan Vaksinasi Covid-19 ini sesuai dengan surat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen Nomor : 443.32/1392/2021, perihal : Pemberitahuan Pelaksanaan Vasinasi Covid-19 bagi Petugas Pelayanan Publik.

Sekretaris Satgas Covid-19 Kecamatan Peusangan Rahmadsyah Harahap menyampaikan "bahwa kegiatan Vaksinasi Covid-19 merupakan kegiatan kedua kalinya untuk petugas pelayanan publik, yang mana sebelumnya telah dilakukan kepada para petugas medis.

"Rahmadsyah menyampaikan bahwa kegiatan Vaksinasi Covid-19 di Kecamatan Peusangan direncanakan untuk para ASN, tenaga honorer, bakti dan magang yang terdiri dari pegawai Kantor Camat Peusangan sebanyak 109 orang, UPTD PL-KB 12 orang, UPTD P&K 19 orang, Kantor KIP Bireuen 30, KUA Peusangan 16,kantor BPP sebanyak 39 orang dengan jumlah total 225 orang, dan akan dilaksanakan selama dua hari yaitu Kamis dan Jum'at". Ujarnya

"Kepala Puskesmas Peusangan Ns. M. Nazar, S. KM dalam arahannya mengatakan kegiatan Vaksinasi Covid-19 di Kecamatan Peusangan dilakukan oleh dua Puskesmas yaitu Puskesmas Peusangan dan Puskesmas Cot Ijue.

"Kami telah menyiapkan empat meja dengan fungsi masing-masing petugas, mulai dari registrasi, cek-up, Input data dan Vaksinasi. Guna memastikan setiap penerima Vaksin Aman dari semua permasalahan, dan tentunya juga harapan kami walaupun sudah divaksin tetap menjaga protokol kesahatan," imbuhnya.


Penulis : Rahmadsyah Harahap (JW)

Related Posts:

Jurnalis Warga Bireuen Ikuti Pelatihan Jurnalistik



Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) mengadakan pelatihan jurnalistik kepada Jurnalis Warga (JW) di kabupaten Bireuen, bertempat di Aula BAPPEDA Bireuen. Rabu (7/4)

Murni selaku Koordinator JW saat pembukaan kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat dibutuhkan agar JW bisa memanfaatkan sebaik mungkin potensi yang dimiliki, untuk memberikan kontribusi dalam perbaikan pelayanan publik di Kabupaten Bireuen melalui karya jurnalistik mereka. 

Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu bertujuan untuk meningkatkan pemahaman jurnalis warga tentang peran dan fungsi tentang jurnalisme warga. Selain itu juga meningkatkan kemampuan dalam menulis berita sesuai kaidah jurnalistik dan meningkatkan kemampuan dalam pemanfaatan sosial media untuk mewartakan sesuatu yang berkenaan dengan pelayanan publik. Tidak luput juga untuk mendorong terciptanya pelayanan publik yang berkualitas lewat karya jurnalistik.

Narasumber yang dihadirkan pada saat pelatihan yaitu Ariadi B. Jangka (Pembina PWI), Ihkwati Hanafiah (Redaktur Pelaksana PT. KabarBireuen.com) dan Muhajir Juli (CEO PT. aceHTrend.co). Para wartawan senior ini membawakan materi tentang jurnalistik dan kontribusi JW dalam mendorong perbaikan layanan publik di kabupaten Bireuen.

Muhammad Dian salah satu JW dari kecamatan Juli menyampaikan banyak sekali mamfaat yang didapatkan selama pelatihan, karena mengulas panjang lebar tentang ilmu dasar jurnalisme, mulai dari cara menulis yang baik dan benar serta etika jurnalistik yang harus dimiliki oleh setiap para pewarta. Bahkan sejauh mana kontribusi JW dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas pelayanan publik. Semua dirangkum dengan sempurna oleh para narasumber yang expert di bagiannya masing-masing.

“yang paling saya ingat adalah semua bisa menjadi jurnalis, asalkan ada kemauan. Namun tidak semua jurnalis memahami Kode Etik Jurnalistik, bahkan jurnalis senior sekalipun sering kelabakan dengan etika tersebut. Jadi sebagai JW saya harus lebih berani, tapi juga harus memahami aturan. Intinya kami harus menjadi jurnalis yang cerdas” Ujar lelaki yang kerap disapa Dian dengan penuh semangat.


Penulis : Rahmadsyah Harahap dan Andri Kurniawan (JW)


Related Posts: